Makassar (ANTARA) - Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengemukakan  masyarakat secara umum di Kawasan Timur Indonesia (KTI) menghadapi perubahan iklim berbasis kearifan lokal.

Kesimpulan itu disampaikan berdasarkan hasil dari 38 penelitian yang tergabung dalam KONEKSI sebagai program penelitian kerjasama antara Indonesia dan Australia terhadap dampak perubahan iklim pada tatanan masyarakat.

"Masyarakat di bawah itu melakukan mitigasi secara kearifan lokal untuk siap menghadapi perubahan iklim," ujarnya pada giat KIE (Knowledge and Innovation Exchange) KONEKSI di Makassar, Rabu.

Melalui penelitian KONEKSI, ia menyebut telah terungkap sebagian besar cara resiliensi atau ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim dari tahun ke tahun, khususnya pada kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, dan disabilitas.

"Dari sini, kita bisa memprediksi dan menyiapkan kebijakan yang sesuai, termasuk kelompok rentan anak-anak dan terutama yang jauh dari perkotaan," ujarnya.

Pungkas mengungkapkan kebanyakan masyarakat mengetahui dan telah merasakan langsung dampak perubahan iklim dari masa ke masa, hanya saja sebutannya berbeda.

"Krisis iklim bukan sesuatu yg ada di pikiran mereka, tetapi sebenarnya itu yang dirasakan. Misal dulunya April sampai Oktober musim kering, tetapi sekarang tidak lagi. Mereka yang ada di pantai juga banyak abrasi, daerah pegunungan banyak penyakit malaria dan semua sektor terdampak," ucapnya.

Maka melalui penelitian ini, kata dia, pemerintah bisa mencontoh dan melihat seperti apa yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan akan menjadi titik utama untuk perbaikan kebijakan ke depan.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai peneliti di KTI dengan fokus penelitian dampak perubahan iklim terhadap lingkungan dan sosial masyarakat yang berlangsung secara perdana di Makassar pada 19-20 Agustus.

Pungkas menyebut sebanyak 38 riset berlangsung atas kerja sama dengan berbagai universitas dan lembaga dengan pemilihan lokasi yang tidak spesifik, sehingga penelitian sangat beranekaragam dan melihat langsung apa yang ada di lapangan.

Penelitian atas kerja sama Australia dan Indonesia ini juga mendorong kerja sama penelitian dari dua negara dalam memperkuat hubungan untuk pembelajaran dari dua negara.

Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar Todd Dias menyebut semua kemitraan penelitian, seperti KONEKSI, sangat penting untuk masa depan kemitraan Australia dan Indonesia.

Baginya kemitraan yang sudah dijalin melalui Program KONEKSI ini bukan hanya antara peneliti-peneliti, tetapi juga dengan masyarakat lokal, LSM, dan pihak lain agar bisa berkelanjutan.

"Sekarang mereka seharusnya membantu masyarakat lokal untuk mengatasi atau menghadapi semua tantangan, khususnya yang terkait dengan perubahan iklim, meskipun bukan hanya soal perubahan iklim saja," katanya.

Todd Dias menyampaikan sudah seharusnya ada hasil penelitian yang bisa ditindaklanjuti, baik melalui ide-ide, inovasi, teknologi, maupun sistem dalam kebijakan.

"Paling penting, hasilnya bukan hanya dari Australia, tetapi benar-benar hasil dari kemitraan Australia dan Indonesia. Jadi ada kemungkinan bukan hanya diterapkan di Indonesia Timur, tetapi juga bisa bermanfaat di Australia," ucapnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bappenas: Masyarakat KTI hadapi perubahan iklim dengan kearifan lokal

Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026