Makassar (ANTARA) - Kondisi sejumlah ruas jalan utama di Kota Makassar kini tampak memprihatinkan karena banyaknya coretan di dinding dan tiang kabel.

Hampir di sepanjang Jalan Sultan Alauddin, Urip Sumoharjo, Veteran, Masjid Raya, hingga AP Pettarani, terlihat tembok pembatas jalan, tiang tol, tiang listrik, dan pintu toko dipenuhi coretan-coretan liar yang merusak pemandangan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan ini.

Warga mengeluhkan tindakan vandalisme ini karena membuat wajah kota tampak kumuh seolah tidak terurus.

Banyak warga mengeluhkan terkait aksi vandalisme terutama di ruas Jalan AP Pettarani, coretan-coretan liar makin merajalela. Ada tulisan kotor dan gambar yang bikin jelek pemandangan kota. 

Seorang warga, Fatimah, mengaku sangat terganggu dengan tulisan-tulisan berisi kata-kata tidak pantas. Bahkan tulisan itu menutupi papan petunjuk arah serta trotoar yang baru saja diperbaiki.

"Tulisan-tulisannya ada yang kasar, ada juga yang tidak senonoh. Ini bukan seni, tapi perusakan. Kota ini jadi kelihatan kotor, padahal Makassar mau dibilang smart city,” ujarnya saat ditemui, Senin.

Kondisi serupa juga terlihat di ruas Jalan AP Pettarani dan Urip Sumoharjo. Beberapa dinding bangunan dan pembatas jalan yang baru dicat oleh petugas kebersihan kembali penuh dengan tulisan semprot hanya dalam hitungan minggu. 

Warga menilai hal ini sebagai bukti kurangnya kesadaran sebagian masyarakat untuk menjaga keindahan lingkungan.
Rahman, warga Makassar lainnya, menyebut pemerintah sudah berusaha memperbaiki tampilan kota, tetapi percuma jika warga tidak memiliki rasa memiliki terhadap fasilitas umum.

“Petugas sudah capek bersihkan, tapi yang kotor bukan cuma temboknya, tapi pikiran orang yang mencoret. Kalau tidak ada sanksi, tidak akan kapok,” katanya tegas.

Hal ini juga dikeluhkan seorang  warga sekaligus pemilik toko di Jalan Masjid Raya. Ia mengatakan bahwa pintu tokonya sudah berkali-kali menjadi sasaran tangan-tangan tak bertanggung jawab.

“Sudah dibersihkan, dicat ulang, tapi tetap saja ada coretan baru. Ini bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Rasanya capek. kita maunya toko kelihatan bagus, tapi dicoret terus. Kalau ingin mencoret lebih baik coret rumahnya sendiri saja” keluhnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun beberapa pelaku menganggap coretan itu sebagai bentuk ekspresi seni atau mural, tetap tidak bisa dibenarkan karena dilakukan tanpa izin.

“Sekalipun gambarnya bagus, kalau tidak izin tetap salah. Saya maunya toko bersih, rapi. Tapi tiap kali dibersihkan  pasti ada saja yang semprot cat sembarangan,” ujarnya.

Fenomena vandalisme ini menimbulkan kesan semrawut dan menghambat citra Makassar sebagai kota modern. Selain merusak tata ruang, coretan-coretan itu juga mencederai estetika kota yang seharusnya menjadi kebanggaan warganya.

Warga berharap pemerintah kota bersama aparat penegak Perda bertindak lebih tegas terhadap pelaku. Sebab jika dibiarkan, perilaku ini bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihapus.

Makassar sedang berbenah menuju kota cerdas dan tertib. Namun selama masih ada warga yang gemar mencoret fasilitas umum, wajah kota akan terus tampak kotor dan kehilangan wibawa. Keindahan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran warganya untuk berhenti mencoret dan mulai menjaga.