Menteri: ajarkan generasi muda konsumsi ikan

id Menteri Kelautan dan Perikanan,Susi Pudjiastuti,Konsumsi ikan,Deep and Extreem Indonesia

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dalam acara Deep and Extreme Indonesia (DXI) 2019 di Jakarta, Sabtu (6/4/2019). (Dokumentasi Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan berbagai pihak dapat mengajarkan generasi muda untuk dapat semakin gemar dalam mengonsumsi ikan yang dinilai merupakan makanan yang bergizi dan bernutrisi tinggi.

"Harapannya dapat mengubah pola konsumsi dari daging merah dan aneka junk food menjadi seafood atau makanan produk kelautan dan perikanan," kata Susi Pudjiastuti dalam siaran pers, Selasa.

Dia  melanjutkan, misi ini merupakan tugas bersama seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas melalui konsumsi ikan yang memiliki kandungan gizi menyehatkan dibandingkan protein hewani lainnya.

Peningkatan konsumsi ikan itu, ujar dia, merupakan program pemerintah lainnya di samping menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut masa depan bangsa.

Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menurunkan angka stunting di Indonesia. "Di Indonesia, yang 1 dari 3 anak tumbuh stunting," tutur Menteri.

Usaha ini pun sudah mulai menumbuhkan hasil. Dengan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari tahun ke tahun menjadi 50.69 kg per kapita di tahun 2018, data terbaru Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan terjadi penurunan angka stunting di Indonesia dari 37,8 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen di 2018.

Sebelumnya, ketika menghadiri Deep and Extreme Indonesia (DXI) Expo di Jakarta, Sabtu (6/4), Menteri  meminta generasi penerus bangsa agar menghilangkan sikap skeptisisme yang dinilai merusak.

Menurut  dia, saat berusaha menghentikan aktivitas pencurian ikan oleh kapal eks-asing dengan penenggelaman, dirinya menerima banyak sekali kritik, apriori, dan sentimen negatif, serta beberapa elite juga skeptis terhadap upaya yang dilakukan.

"Skeptisisme ini adalah penyakit yang sangat-sangat tidak boleh ada dalam sebuah bangsa yang sedang membangun. Kalau skeptisisme dihiduipkan, seluruh bangsa ini, next generation will be gone," ujarnya.

Ia berpendapat bahwa Indonesia tidak mungkin bisa menjadi bangsa yang dihormati dan disegani bila masih menyebar skeptisisme di antara berbagai kalangan masyarakat.

Susi menyatakan, skeptisisme ini tidak diperlukan mengingat Indonesia memiliki luas teritorial dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang diakui hukum internasional.

Selain itu, ujar dia, selama 4,5 tahun belakangan ini, Indonesia telah merasakan banyak manfaat dari pengelolaan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Salah satunya adalah peningkatan potensi sumber daya ikan Indonesia yang pada tahun 2013 hanya sebesar 7,31 juta ton, meningkat drastis menjadi 12,5 juta ton pada 2016.


 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar