UMI Makassar terima 4.500 mahasiswa baru

id umi,mahasiswa baru umi,umi makassar,nurjannah abna

Rektor UMI Prof Dr H Basri Modding MSi (tengah) didampingi para wakil rektor memberikan keterangan pers terkait kesiapan kampus itu memberlakukan UTBK seleksi mahasiswa baru di Makassar, Kamis (2/5/2019). (Arsip)

Makassar (ANTARA) - Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun ajaran 2019/2020 menerima mahasiswa baru (maba) sebanyak 4.500 orang dan pendaftaran melalui laman website resmi UMI pada situs http://spmb.umi.ac.id.

"Bagi mahasiswa  yang kesulitan mendaftar melalui online, maka pihak kampus menyediakan pendaftaran secara manual (Offline)," kata Kepala Humas UMI Dr Nurjannah Abna dalam keterangannya di Makassar, Senin.

Dia menambahkan, formulir secara offline dapat diambil pada Sekretariat Panitia Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), di Gedung Menara UMI Lt. 2 Jl. Urip Sumoharjo Km. 05 Makassar, setiap hari kerja (Senin-Sabtu) pukul 08.00 sampai 16.00 WITA dan dibuka hingga 12 Juli sementara test tanggal 15 Juli 2019.

Sementara, pendaftaran secara online pengunggahan lampiran berkas: foto copy Ijazah dan Hasil Ujian Nasional (UN) yang telah dilegalisir bagi yang telah memiliki ijazah, pas photo terbaru berwarna ukuran 3×4 cm latar belakang warna merah.

Sedang untuk lulusan yang setara SMA dari luar negeri ijazah atau surat kelulusan dilegalisir oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bagi yang memilih program studi Pendidikan Dokter dan Kedokteran Gigi wajib menyertakan rapor kelas X sampai XII yang dilegalisir Kepala Sekolah dan tahun  ijazah paling rendah 2017.

Bagi pemegang ijazah paket C atau Surat Keterangan Lulus dari Sekolah, menyertakan rapor kelas XII yang dilegalisir Kepala Sekolah.

"Calon mahasiswa bebas test, wajib menyertakan Surat Keterangan  Ranking Umum Sekolah (Peringkat 1 – 10 lulusan) tahun 2019, Surat Keterangan/Sertifikat Juara  pada MTQ, bidang ilmu pengetahuan, olah raga atau seni, baik pada tingkat Provinsi, Nasional dan International  dari Pejabat Terkait," ujar Nurjannah.

Baca juga: UMI Makassar buka prodi pendidikan jarak jauh

Sementara itu, Wakil Rektor I UMI Dr. Ir. H. Hanafi Ashad, MT mengatakan mahasiswa nanti akan melakukan kuliah dengan tatap sistem online saja.

Melanjutkan kuliah di UMI adalah pilihan tepat, karena UMI telah dipercaya oleh pemerintah sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi  Swasta paling bergengsi dan mampu mengimbangi Perguruan Tinggi Negeri, apalagi PT milik swasta yang ada di hampir seluruh pelosok negeri Indonesia.

UMI telah memperoleh akreditasi institusi dengan kategori unggul  atau nilai 'A' dan dari 17 program studi yang berjumlah 56 diantaranya telah akreditasi A dan sementara proses untuk mendapat pengakuan internasional dari AUN-QA.

UMI juga  berhasil menempatkan dirinya pada peringkat ke-64 dari 4.674 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Indonesia (data dari Kemenristekdikti, 2018).  Pencapaian demi pencapaian signifikan yang diperoleh sejak tiga tahun terakhir, Universitas Muslim Indonesia pun dapat berdiri sejajar dengan institusi pendidikan ternama lainnya di Indonesia.  

UMI memiliki dosen 890 orang, 49 orang diantaranya guru besar, terbanyak  di wilayah IX Sulawesi   dari 73 guru besar yang tersebar dalam lingkup LL DIKTI  Wil. XI Sulawesi.

Calon maba yang merupakan generasi milenial, kuliah di UMI, akan memiliki keunggulan  sebagai sumber daya manusia (SDM) yang mampu berdaya saing dengan karakter Islam, berkarya dengan landasan spririt dan etik Islam.

Mahasiswa juga diberi kesempatan memperoleh  gelar ganda (double degree) dan beberapa keterampilan lainnya, diantaranya kewirausahaan sebagai bagian dari komitmen UMI dengan tujuan melahirkan sarjana yang berjiwa wirausaha dan membekali dengan pelatihan K3.

Alumni UMI siap berkarya dan berdaya saing di berbagai bidang profesi, keilmuan dan keahlian dengan akar identitas moral sebagai seorang Muslim. Hal ini juga merespon tantangan revolusi 4.0, Mahasiswa bisa melakukan pembelajaran melalui tiga server untuk berselancar di dunia maya.
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar