
PT Inco Dorong Pertanian Ramah Lingkungan

Sorowako, Sulsel, (ANTARA Sulsel) - Perusahaan tambang nikel PT Inco Tbk mendampingi petani untuk membangun sistem pertanian ramah lingkungan dan berbasis organik di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terutama menyangkut tanaman pangan dan hortikultura.
Upaya pendampingan itu agar masyarakat dapat mengonsumsi makanan sehat yang tidak mengandung residu bahan kimia berlebihan, kata Superintendent Community Relations PT Inco Idris Abdul Rasyd di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, Selasa.
Caranya, PT Inco bekerjasama dengan Pemkab Luwu Timur menggelar program pelatihan fasilitator dan pendampingan petani yang berjangka waktu dua tahun.
"Program ini merupakan pelatihan dan pendampingan bagi para fasilitator, pendamping, dan pelaku di bidang pertanian dalam arti luas, serta lembaga kelompok tani, baik yang terkait dengan manajemen maupun operasionalnya yang dimulai pertengahan Desember 2008, di Kecamatan Wasuponda," ujar Idris.
Dalam program ini, diupayakan pemecahan permasalahan melalui berbagai pendekatan seperti pemilihan lokasi yang tepat, pemilihan varietas/jenis komoditas yang tepat dan pemilihan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi di daerah tersebut.
"Ini program pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian ramah lingkungan," kata Idris.
Apabila sistem pertanian ini dapat dilakukan dengan baik, maka areal pertanian masyarakat akan terhindar dari kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di hampir seluruh Indonesia, sekaligus akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Selama ini, para petani di Luwu, umumnya masih mengandalkan penggunaan pupuk kimia untuk meningkatkan kesuburan tanah, dengan harapan produktivitas hasil pertanian mereka bisa meningkat.
Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit, petani masih mengandalkan pestisida kimia.
Kenyataannya berbanding terbalik dengan pendapatan yang mereka terima setelah panen, karena jumlah bibit yang digunakan terlalu banyak dan tidak memenuhi standar mutu yang sesungguhnya.
Akibatnya, lanjutnya, kegiatan usaha tani yang dilaksanakan menjadi padat modal, sehingga hasil yang diterima menjadi sangat sedikit, dan menjadikan lahan pertanian mereka menjadi rusak dan tidak ramah lingkungan.
Melalui program ini, katanya, petani dilatih secara berkala selama dua tahun. Materi pelatihan mencakup pengantar pemberdayaan, tujuannya agar petani mampu menilai diri dan memiliki kemampuan untuk maju dan berubah.
Selain itu, strategi membangun komunitas dan organisasi yang kuat. Tujuannya memberikan stimulus agar terbentuk komunitas yang mandiri dan produktif. Serta strategi budidaya pertanian yang ramah lingkungan mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pembuatan pupuk organik, panen dan pasca panen, ucapnya.
Tujuan program ini adalah untuk mensosialisasikan serta menerapkan model pertanian yang ramah lingkungan dan organik, melatih fasilitator, pendamping dan petani agar dapat menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, melatih fasilitator, pendamping dan petani dalam memanfaatkan potensi alam dan bahan yang berbasis organik.
Di samping itu, melatih fasilitator, pendamping dan petani, dalam melakukan kegiatan budidaya pertanian yang efisien, terukur dan menguntungkan, sehingga mampu secara signifikan memberi dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, program ini juga melatih fasilitator, pendamping dan petani, dalam mengelola dan memperkuat organisasi petani secara mandiri dan produktif, ujar Idris.(T.F003/s018)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
