Logo Header Antaranews Makassar

Kakao Sumbang Devisa 1,4 Miliar Dolar AS

Sabtu, 29 Mei 2010 19:25 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Komoditi kakao memberikan sumbangan devisa nasional sebesar 1,4 miliar dolar AS per tahun.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Achmad Manggabarani di Makassar, Sabtu, menjelaskan, nilai tersebut diperoleh dari total lahan seluas 1,4 juta ha.

"Produksi 2009 mencapai 800 ribu ton dari 93 persen perkebunan rakyat," ujarnya yang menambahkan jumlah petani kakao sebanyak 1,4 juta kepala keluarga.

Angka tersebut menempatkan kakao sebagai komoditas unggulan ketiga terbesar setelah kelapa sawit dan karet.

Menurutnya, permasalahan yang masih dihadapi dalam pengembangan kakao adalah penurunan tingkat produktivitas akibat tanaman tua, penyakit, hama, rendahnya mutu biji kakao.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah terbatasnya kemitraan industri dan permodalan petani yang terbatas.

"Serangan hama pada 450 ribu ha menyebabkan menurunnya produksi secara bertahap mulai dari 600 kilogram/ha/th hingga 400 kg/ha/th. Padahal sejak 2003 produksi kakao nasional mencapai 1,1 juta ton," jelasnya.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk kembali meningkatkan produksi kakao adalah dengan meningkatkan kapasitas petani, penyediaan bibit unggul, revitalisasi perkebunan kakao melalui kredit perbankan dengan bunga yang disubsidi pemerintah.

"Pembiayaan selama ini belum optimal karena masih parsial dan kecil. Kelompok petani akan diberikan modal bergulir minimal Rp150 juta per kelompok," ujarnya.

Dengan program Gerakan Nasional Kakao diharapkan jumlah produksi meningkat hingga 1,5 juta ton dan bermutu tinggi. "Kita ingin menghilangkan citra mutu kakao Indonesia buruk," ujarnya.

Produksi Kabupaten Luwu, menurutnya sangat baik dengan mutu yang bisa disandingkan dengan produksi asal negara Afrika, Ghana.

Peremajaan tanaman yang dilakukan sepanjang 2009 mencapai 80,27 persen dari 20 juta pohon yang ditargetkan, kemudian rehabilitasi 19 persen dan intensifikasi 100 persen.

Ia mengungkapkan targetnya untuk menjadikan Indonesia untuk tidak selalu menjadi penghasil biji kakao atau bahan baku. "Kakao dalam bentuk cocoa butter nilainya 2,4 kali lipat tinggi dibanding biji atau bahkan bubuk," jelasnya. (T.KR-RY/F003)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026