
Resi Gudang Atasi Kendala Harga Komoditas

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Sistem Resi Gudang (SRG) dipastikan mampu mengatasi kendala harga produk pertanian, terutama saat terjadi kelebihan produksi sebab melalui SRG petani bisa menyimpan produksinya sambil menunggu hingga harga membaik.
Pernyataan itu dikemukakan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Indonesia, Deddy Saleh pada Sosialisasi SRG dan Pasar Lelang Komoditi di Bantaeng, Rabu.
Kegiatan ini merupakan kali pertama di Indonesia dan dipusatkan di kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini bekerjasama Bappebti, Kementerian Perdagangan Indonesia, Pemprov Sulsel dan Dinas Perindag, Pertambangan dan Energi Kabupaten Bantaeng.
Sosialisasi tersebut ditandai peresmian gudang komoditi, sekaligus penyerahan gudang kepada sembilan bupati di Indonesia masing-masing Bupati Barito Kuala (Kalsel), Bupati Gorontalo (Gorontalo), Minahasa (Sulut), dan Bupati Sumenep (Jatim).
Lima kabupaten lainnya yang mendapat bantuan gudang dari Kementerian Perdagangan masing-masing Kabupaten Bantaeng, Takalar, Gowa, Bone, dan Kabupaten Sidrap di Sulsel.
Deddy Saleh berharap, kehadiran gudang ini akan memberi manfaat kepada masyarakat, terutama petani. Selama ini kita selalu kesulitan terhadap harga komoditas saat musim panen maupun pada musim paceklik.
"Saat musim panen, harga jatuh dan pada musim paceklik harga melonjak. Inilah kendala kita selama ini. Karena itu kita mencoba dengan Sistem Resi Gudang," urainya.
Terobosan ini akan mencegah kendala tersebut. "Dengan SRG petani sudah bisa menyimpan produknya, terutama saat harga jatuh. Berdasarkan bukti penyimpanan produk tersebut, petani sudah bisa mendapat dana dari perbankan," tambahnya.
Ini terobosan baru sebab kita tidak bisa mengagunkan komoditi beras maupun jagung ke bank. Tapi, dengan SRG petani bisa mengambil dana di bank. Tentu saja, komoditi yang masuk ke gudang harus memenuhi standar.
Menyinggung bunga bank, ia mengatakan, pemerintah memberi subsidi bunga enam persen. Manfaat lain yang diperoleh, petani akan terbiasa menyiapkan produknya yang standar sehingga bisa bertahan lama, sekaligus membantu penyediaan stok nasional.
"Melalui sistem ini, dengan cepat kita bisa memperoleh informasi tentang stok dan keluar masuknya komoditi. Dengan begitu, pengusaha yang ingin melakukan investasi juga bisa cepat menanamkan modalnya karena membangun gudang ternyata menguntungkan. Beberapa negara sudah menerapkan sistem ini dan menjamin stabilitas harga," ucapnya.
Menurut dia hingga kini sudah 41 gudang yang sudah dibangun tersebar pada 34 kabupaten di 10 provinsi. Khusus di Sulsel sebagai sentra produksi, mendapat jatah enam gudang.
Ia berharap, masing-masing Pemda segera memanfaatkan fasilitas dari dana stimulus fiskal ini secara maksimal. Untuk pengelolaannya, Kementerian Perindag akan tetap memantau dan melakukan bimbingan. (T.KR-AAT/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
