Logo Header Antaranews Makassar

Majene Jajaki Pasokan Ikan ke Bantaeng

Senin, 21 Juni 2010 10:43 WIB
Image Print

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Kabupaten Majene, Sulawesi Barat menjajaki kemungkinan pasokan ikan ke industri pengolahan ikan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan milik PT Global Seafood International Indonesia (GSII).

"Nelayan kami sudah dilengkapi teknologi yang bisa memantau keberadaan ikan hingga ke laut lepas," kata Bupati Majene H Kalma Katta saat berada di Bantaeng, Minggu.

Ketika dijamu Bupati Bantaeng, HM Nurdin Abdullah, Bupati Majene mengatakan, hasil tangkapan nelayan Majene selama ini dipasarkan ke Kawasan Industri Makassar (KIMA) dan Kalimantan.

Meski ia mengakui kondisi kelautan Majene tidak seperti dulu lagi, namun Bupati yang membawa rombongan 40 orang pejabat itu berharap, pihaknya bisa memasok kebutuhan ikan PT GSII.

Industri pengolahan ikan pertama di Indonesia yang berpangkalan di Kabupaten Bantaeng itu membutuhkan ikan 40 ton/hari, namun hingga kini, pasokan ikan yang masuk baru mencapai 12-15 ton/hari.

Pasokan ikan tersebut berasal dari Kalimantan dan beberapa daerah lainnya di Sulsel hingga Pulau Jawa. Karena itu, nelayan Majene diharapkan bisa berpartisipasi memenuhi kapasitas produksi dari industri tersebut, jelas Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah.

Bupati Nurdin mengatakan, selain industri pengolahan ikan yang seluruh produksinya di ekspor ke Jepang, Bantaeng juga mengembangkan tanaman talas.

Tanaman berkhasiat anti kanker dan diabetes ini juga diminati pasar Jepang. Negara Matahari Terbit itu bahkan butuh dalam jumlah besar sehingga berapapun produksi talas (Satoimo Bantaeng), Jepang akan menyerapnya.

Menurut Bupati Bantaeng, selama ini Negeri Sakura itu Memenuhi kebutuhan talasnya dari China, namun hasil penelitian terakhir menunjukkan, kualitas talas Bantaeng lebih baik dibanding talas dari China dan Jepang sendiri.

Karena itulah, talas Bantaeng sangat diminati, terangnya seraya mengungkap komoditi ekspor lainnya ke Korea Selatan dalam bentuk biji kapuk. Negeri Ginseng itu membutuhkan biji kapuk untuk pakan ternak.

Hingga kini, Bantaeng hanya mampu memasok biji kapuk sebanyak 300 ton/bulan, terang Nurdin Abdullah sembari mengemukakan rencana pembangunan industri ethanol dari bahan tapioca serta industri cuka.

Industri ethanol akan dibangun investor China sedang industri cuka akan dibangun investor Malaysia. Perusahaan Korea Selatan Dragon Land juga akan membangun industri pengolahan jagung di daerah ini, urainya.

Melihat potensi tersebut, Bupati Nurdin Abdullah menyebut warganya tidak layak miskin sebab pada dataran rendah juga dikembangkan padi yang bibitnya ditangkar sendiri.

Pemda melalui Badan Ketahanan Pangan kini menyiapkan 20 varietas padi yang bisa dikembangkan masyarakat, termasuk jenis hybrid. Hingga kini 200 Ha lahan yang digunakan untuk pembibitan desa.

Dari sisi ekonomi, pembibitan sendiri lebih menguntungkan dibanding penjualan dalam bentuk gabah. Ia berharap pengembangan berbagai jenis tanaman termasuk pada wilayah ketinggian yang ditanami apel dan strawberi serta pengembangan rumput laut pada wilayah pantai dapat menekan angka kemiskinan. (T.KR-AAT/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026