
Petani Kakao Kena Imbas Kenaikan Tarif Listrik

Makassar (ANTARA News) - Petani kakao dipastikan akan terkena imbas dari kenaikan tarif dasar listrik di mana harga pembelian industri di tingkat petani dikhawatirkan makin turun akibat makin besarnya beban operasional industri.
Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel Yusa R. Ali mengatakan di Makassar, Selasa, imbas kenaikan TDL dapat dipastikan ikut menekan harga pembelian kakao di tingkat petani di kisaran maksimal delapan persen.
Dia mengaku, penurunan tersebut dikhawatirkan akan membuat komoditas kakao terancam akan ditinggalkan petani karena harganya makin tidak menjanjikan.
"Kakao jelas akan ditinggalkan petani, karena harganya terus turun. Apalagi, penerapan bea keluar untuk ekspor kakao cukup membebani ditambah lagi dengan kenaikan TDL," keluhnya.
Ketua Komisi B DPRD Sulsel ini juga menyebutkan, penerapan Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) No 67/PMK.001/2010 tentang tarif bea keluar yang diberlakukan secara bertingkat juga cukup menyulitkan petani kakao selama ini.
"Aturan ini hanya menguntungkan industri di Jawa, sementara pemerintah tidak pernah memikirkan kondisi 300.000 kepala keluarga di sini," ucapnya.
Dia mengaku, penghentian pembelian kakao milik petani ini dilakukan untuk menghindari kerugian pengusaha yang diperkirakan bisa mencapai Rp80 miliar jika pajak bea keluar itu dibebankan sebesar 10 persen kepada pengusaha.
"Pemberlakuan bea keluar kerugian ditaksir mencapai Rp350 miliar per tahunnya," ucapnya.
Dia mengaku, pemberlakuan Permenkeu dengan alasan keterbatasan pasokan bahan baku industri dianggap tidak tepat karena produksi kakao nasional melebihi kapasitas terpasang industri yang ada di Indonesia.
"Kapasitas terpasang industri dalam negeri hanya 230.000 ton. Itu pun yang terpakai masih di bawah kapasitas. Di mana relevansinya, jika produksi kakao nasional bisa mencapai 800.000 ton," keluhnya. (T.KR-HK/A023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
