
Harga Sembako di Polman Melonjak Tajam

Polman, Sulbar (ANTARA News) - Harga kebutuhan pokok (Sembako) di pasar tradisional di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, dihari pertama di bulan ramadan 1431 hijriyah melonjak tajam.
Berdasarkan Pemantauan ANTARA di Polman, Rabu, harga sembako di dua pasar tradisional rata-rata mengalami kenaikan dikisaran 50 persen hingga di atas 100 persen.
Di pasar tradisional Pekkabata, harga lombok besar yang sebelumnya Rp20.000 per kilogram (kg) menjadi Rp50.000 per kilogram (kg), cabai merah mencapai Rp40.000 per kilogram (kg) dari sebelumnya hanya berkisar Rp22.000 per kilogram (kg).
"Lebih mencengankan adalah harga lombok kriting yang sebelumnya masih Rp15.000 per kilogram (kg), tapi saat ini harganya berkisar Rp80.000 per kilogram (kg)," kata Sarifa Madina, warga Kelurahan Takatidung, Polman.
Selain itu, kata dia, beberapa jenis kebutuhan pokok mengalami kenaikan, seperti Tomat yang biasanya Rp8000 per kilogram menjadi Rp13.000 per kilogram.
"Sejak kemarin hingga saat ini harga sembako di pasaran rata-rata mengalami kenaikan di atas 20 persen, bahkan ada yang lebih 100 persen," kata dia.
Lonjakan harga juga terjadi di Pasar Baru Polman, seperti jenis harga telur per rak Rp38.000, padahal sebelumnya hanya Rp28.000 per rak. Bawang putih yang awalnya hanya Rp12.000 per kg kini melonjak menjadi Rp30.000 per kg. Begitupun dengan harga susu kemasan yang naik dari Rp8.000 per kaleng menjadi Rp10.000 per kaleng.
Mirawati, salah satu pedagang di pasar baru Polman, mengungkapkan, harga sejumlah sembako sejak tiga hari sebelum ramadhan sudah mengalami kenaikan.
"Kenaikan harga sudah terjadi setiap kali memasuki bulan Ramadan. Harga-harga itu akan semakin tinggi hingga menjelang lebaran Idul Fitri," kata dia.
Ia mengungkapkan, kenaikan harga di bulan Ramadan merupakan hal yang sudah lazim akibat tingkat permintaan dari masyarakat sangat tinggi, sedangkan pasokan kebutuhan sembako itu terbatas.
"Kami belinya juga mahal, makanya dijual ke pasaran pun harus begitu. Kalau tidak, maka jelas jualan kami merugi," ujarnya.
Sementara itu, Husnah, salah seorang ibu rumah tangga di pasar baru Polman, mengaku, kenaikan harga yang sangat tinggi sangat memberatkan masyarakat. Apalagi, saat Ramadan tingkat kebutuhan akan semakin banyak.
"Kebutuhan di bulan ramadhan sangat tinggi. Apabila harga sembako rata-rata naik, maka jelas hal itu akan menyusahkan masyarakat," tuturnya.
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah segera turun tangan untuk mengontrol harga-harga kebutuhan pokok yang ada di pasar, khususnya, dalam menekan harga sehingga tidak terlalu memberatkan masyarakat.
"Pemerintah harus bisa menekan kenaikan harga yang sudah tidak wajar ini. Warga yang sudah susah jadi tambah susah kalau begini," keluhnya. (T.KR-ACO/A027)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
