
Obyek Wisata di Tanatoraja Kurang Terurus

Tanatoraja, Sulsel (ANTARA News) - Kondisi sejumlah obyek wisata di Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan terlihat kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat.
Pantauan ANTARA, Sabtu, menyebutkan obyek wisata yang kurang terurus teresbut adalah pemandian alam Tilangnga, kawasan pekuburan Swaya, Rantelemo, kuburan pohon Kambira, dan sebagainya.
Kurang terurusnya obyek wisata ini terlihat dari sejumlah bangunan yang sudah dalam kondisi rusak.
Bahkan, tidak terlihat lagi aktivitas yang dilakukan oleh pengelola obyek wisata, seperti pemungutan retribusi, dan sebagainya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanatoraja, Yosiade, membenarkan kondisi obyek wisata tersebut.
Menurutnya, kendala utama yang menyebabkan kondisi obyek wisata tersebut adalah minimnya akses jalan menuju lokasi obyek wisata.
"Minimnya akses jalan yang memadai mengakibatkan pihak pengelola semakin sulit untuk mengelola obyek wisata tersbut," imbuhnya.
Jumlah pengunjung yang datang pun akhirnya semakin berkurang, baik wisatawan asing maupun domestik.
Selain minimnya akses jalan, katanya, pihak pengelola yang dalam hal ini adalah yayasan masih menggunakan managemen tradisional dalam mengelola obyek wisata.
"Pengelolaan obyek wisata masih menggunakan cara-cara lama, dan tidak bisa mengikuti perkembangan situasi," tuturnya.
Menurutnya, kondisi ini sangat disayangkan, mengingat obyek wisata di Tana Toraja sudah terkenal hingga ke luar negeri.
Ia mengatakan, sebagian besar obyek wisata di Tana Toraja dikelola oleh yayasan karena merupakan warisan leluhur keluarga tertentu.
"Karena itulah dalam hal pembagian pendapatan, yayasan memperoleh 60 persen, sedangkan daerah hanya mendapat 40 persen," jelasnya.
Ia mengaku sudah mengusulkan kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk bisa memprioritaskan pembangunan jalan menuju obyek wisata.
"Akan tetapi, usulan tersebut belum juga ditindaklanjuti hingga saat ini," ujarnya.
(T.pso-103/S006)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
