
Pemkab Tanatoraja Rehabilitasi Tanaman Cengkih

Makale, Sulsel (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Tanatoraja mulai melakukan rehabilitasi terhadap tanaman cengkih di wilayah tersebut.
"Saat ini kami sudah mulai Melakukan rehabilitasi di kawasan perkebunan cengkih milik warga yang dulu banyak ditebang akibat anjloknya harga cengkih," ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tanatoraja, Haris Paridi, di Makale, Jumat.
Ia mengatakan, rehabilitasi kawasan tanaman cengkih ini sudah mulai dilakukan sejak satu tahun terakhir, namun saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal.
"Kendala yang cukup serius dihadapi adalah petani masih trauma atas anjloknya harga cengkih beberapa tahun lalu, sehingga enggan untuk mengurus tanaman cengkeh," ujarnya.
Padahal, kata dia, pengembangan tanaman cengkih sudah dimulai dengan pemanfaatan kawasan, dan juga pemberian bibit kepada masyarakat, meskipun dalam jumlah yang terbatas.
Menurut dia, untuk memanen satu bibit tanaman cengkih memang membutuhkan waktu yang lama, yaitu sekitar tujuh hingga delapan tahun.
"Hal inilah yang juga membuat sejumlah petani lebih memilih untuk mengembangkan tanaman lain dibandingkan cengkih, karena tidak sabar menunggu hasil cengkih tersebut," jelasnya.
Belum lagi, kata dia, serangan hama yang seringkali menimpa tanaman cengkih sehingga banyak bibit yang cepat mengalami kerusakan.
Saat terjadi penurunan harga cengkih pada tahun 1990-an, banyak petani yang terpaksa menebang pohon cengkih miliknya dan menggantinya dengan tanaman vanili.
"Meskipun saat ini hasilnya belum begitu maksimal, namun upaya untuk melakukan rehabilitasi dan pengembangan tanaman cengkih masih terus dilakukan, mengingat potensi alam yang Tanatoraja yang sangat mendukung," imbuhnya.
Ia berharap agar kejadian seperti pada dekade tahun 1990-an tidak terjadi lagi, sehingga petani bisa mengembangkan tanaman cengkeh dengan maksimal. (T.pso-103/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
