
Pengusaha Tionghoa Makassar Menitikkan Air Mata

Makassar (ANTARA News) - Pengusaha tionghoa menitikkan air mata di tengah dialog budaya yang membahas tentang asimilasi warga Tionghoa di Indonesia dalam rangka perayaan tahun baru Imlek di Makasar, Sabtu.
Hasan Basri, yang dikenal satu-satunya pengusaha Tionghoa yang berani menanamkan modalnya sebesar Rp118 miliar untuk revitalisasi lapangan karebosi itu menitikkan air mata saat menyampaikan pendapatnya tentang arti sebuah pembauran budaya masyarakat Sulsel dalam diskusi Imlek itu.
"Saya teringat dengan anak saya. Dia meninggal karena tidak pernah tidur memikirkan persoalan pembangunan lapangan karebosi ini," ucapnya.
Pengusaha yang akrab dengan sapaan Bang Hasan itu mengaku sedih dengan banyaknya tudingan miring dari berbagai kalangan tentang dirinya yang dianggap mengambil keuntungan dalam proyek revitalisasi lapangan karebosi yang selama ini menjadi "space public" kota ini.
"Kami membangun karebosi tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh. Sampai puluhan tahun pun saya tidak bisa BEP (break event point). Saya berani bertaruh dengan pengamat ekonomi mana pun, tidak akan ada yang bisa menghitung keuntungan yang bisa saya peroleh dari investasi itu," ujarnya.
Sejak beberapa media meributkan persoalan pembangunan lapangan karebosi yang merupakan jantung atau titik nol kilometer kota ini, tidak satu pun investor yang berani mengerjakan proyek pembangunan lapangan milik publik itu.
Dia mengaku, perusahaan PT Tosan Permai miliknya yang menyatakan kesediaan melakukan pengelolaan kawasan milik publik itu hanya diberikan kesempatan mengelola kawasan itu selama 30 tahun.
"BPKP sudah memeriksa dokumen kontrak pengelolaan itu. Tidak ada temuan keuntungan yang bisa saya dapat dari pengelolaan itu. Anda bisa bayangkan apakah modal kami yang ratusan miliar itu bisa kembali dalam 30 tahun, dengan hitung-hitungan keuntungan hanya sekitar Rp11 miliar per tahun. Keuntungan itu harus dibagi lagi dengan pemda, apakah modal kami bisa kembali," ucap dia.
Menurut dia, keinginannya melakukan revitalisasi kawasan itu hanya untuk memberikan ruang bagi pedagang kecil di kota ini supaya bisa memperoleh tempat usaha yang layak dan mendukung pemerintah daerah setempat membangun kota ini.
"Sebenarnya tempat sudah kami siapkan, hanya saja perbankan belum bisa memberikan pembiayaan karena pemkot belum bisa menyiapkan jaminan," ungkap dia.
Pria berambut putih ini dengan nada sedih menyampaikan, keinginannya membangun kota ini karena jiwa kedaerahannya melekat di kota ini, sehingga dirinya menawarkan almarhum anaknya yang lama bersekolah di Singapura itu kembali membangun daerah ini.
Dalam diskusi budaya Tionghoa itu, hadir pula pengamat budaya pluralisme yang Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar Prof Qasim Mathar, Ketua Perhimpunan Islam Tionghoa (Piti) Makassar, Sulaiman Gozalam, tokoh budayawan Sulsel dan tokoh masyarakat Tionghoa cukup antusia membahas mengenai adanya persamaan budaya Tionghoa dengan baragam budaya daerah ini. (T.KR-HK/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
