
Tanri Abeng Usulkan Museum Budaya Benteng Rotterdam

Makassar (ANTARA News) - Mantan Menteri Negara BUMN Tanri Abeng yang menjadi penggagas dalam Pementasan Epik I La Galigo mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk membangun museum budaya dan sejarah di Benteng Rotterdam Makassar.
"Setelah pementasan epik I La Galaligo ini kita berharap agar museum budaya dan sejarah juga sudah terbangun di dalam Benteng Rotterdam Makassar," ujarnya di Makassar, Kamis.
Ia mengatakan, masih adanya segelintir pejabat yang tidak mengetahui hikayat kepahlawanan tokoh Sulawesi Selatan I La Galigo mengantarkannya kepada suatu inisiatif untuk mengadakan suatu museum yang penuh dengan epik karya sastra seperti I La Galigo.
Diungkapkannya, Surek Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan yang ditulis di antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno.
Ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis, puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.
Epik I La Galigo merupakan yang tertua dan terpanjang di dunia sebelum epik Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno.
Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.
Ia menekankan jika epik Surek I La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan bugis sebelum abad ke-14.
"Ini hanyalah sepenggal dari kisah yang saya ketahui, masih banyak lagi literasi lainnya dalam epik ini. Bahkan, penerjamah naskah asli yang diundang Pemerintah Belanda untuk menerjemahkan naskah sekitar 6.000 halaman itu, Muhammad Salim mampu menerjemahkannya dalam kurun waktu 5,2 tahun," katanya.
Makanya, lanjut pengusaha nasional asal Kabupaten Selayar itu, sangat miris jika masih ada pejabat atau banyak kalangan yang tidak tahu sosok kepahlawanan I La Galigo yang mendapat pengakuan dunia sebagai waarisan dunia tersebut.
Karena itu, saya akan berupaya untuk membuat sebuah museum budaya dan sejarah agar nantinya generasi muda yang ingin mengetahui karya sastra asal Sulsel ini tidak perlu ke luar negeri untuk mempelajarinya.
"Kalau ingin mempelajari karya sastra atau sosok kepahlawanan dari tanah Bugis Makassar ini tidak perlu ke luar negeri, cukup ke Museum Benteng Rotterdam saja. Saya tidak ingin generasi muda melupakan jika di Sulsel ini ada warisan dunia yang pernah lahir," tuturnya.
(T.KR-MH/B012)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
