
Inflasi Sulampua Meningkat dengan Capaian 6,40 Persen

Mamuju (ANTARA News) - Laju inflasi wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) pada tahun 2010 meningkat sampai 6,40 persen (yoy) jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya 3,67 persen.
"Laju inflasi yang terjadi di wilayah Sulampua meningkat. Namun begitu, lebih rendah dibandingkan laju inflasi nasional sekitar 6,96 persen di tahun 2010," kata Tim Moneter Bank Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, Jaka Setyawan, saat berada di Mamuju ibukota provinsi Sulawesi Barat, Minggu.
Menurutnya, kondisi laju inflasi tertinggi terjadi di Maluku yang mencapai 8,78 persen, kemudian diikuti Gorontalo sebesar 7,43 persen, dan Papua Barat mencapai angka sebesar 7,41 persen.
"Perkembangan laju inflasi wilayah Sulampua ini berdasarkan data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2010 yang lalu. Jadi ini layak dipercaya dan tidak ada rekayasa," katanya.
Ia mengemukakan, kelompok komoditas penyumbang inflasi terbesar pada tahun 2010 adalah bahan makanan sekitar 1,70 persen, perumahan 1,48 persen, dan transport sebesar 1,11 persen.
Jaka menyampaikan, faktor yang mempengaruhi terjadinya tekanan inflasi adalah rentanya pangan karena dipengaruhi oleh faktor anomali cuaca, sehingga mengganggu pasokan dan distribusi beberapa komoditas yang ada di daerah.
Selain itu, kata dia, penyebab lain yang memicu terjadinya tekanan inflasi meningkat adalah terjadinya penyesuaian Tarif Dasar Listrik (TDL) dan kenaikan tarif disektor angkutan.
Banyak hal yang menjadi pemicu tekanan inflasi di tahun 2010, katanya, seperti peningkatan harga komoditas di pasar internasional, seperti emas, gula, baja, gandum, CPO dan Bahan Bakar Minyak alias BBM.
"Kondisi seperti ini tentu akan mempengaruhi tekanan laju inflasi dan akan berujung pada daya beli masyarakat yang meningkat karena meningkatnya pendapatan," ucap Jaka.
Karena itu, kata dia, pemerintah perlu mewaspadai dengan memberikan perhatian lebih untuk menjaga kondisi laju inflasi di tahun 2011 ini.
"Jika dilihat dari kondisi iklim saat ini, maka besar kemungkinan potensi tekanan inflasi akan terus terjadi di tahun ini," tuturnya.
Ia mengemukakan, tingkat curah hujan diprediksi akan cukup tinggi serta potensi meningkatnya harga beberapa komoditas internasional, seperti gula, gandum, emas, BBM, CPO, dan kapas serta rencana pembatasan BBM bersubsidi oleh pemerintah akan memicu tekanan inflasi di negeri ini.
Berdasarkan disagregasi inflasi Sulampua tahun 2010 kata dia, maka penyumbang inflasi tersebut didominasi oleh kelompok "volatile food" dengan kisaran sebesar 16,14 persen dengan sumbangan, 3,57 persen.
"Komoditas utama yang memberikan sumbangan juga dipengaruhi kondisi harga beras, minyak goreng, gula, telur, dan bawang merah."
Sedangkan untuk inflasi inti (core inflation) relatif stabil yaitu sebesar 4,5 persen dengan sumbangan 2,03 persen termasuk kenaikan tarif TDL.(T.KR-ACO/A027)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
