Logo Header Antaranews Makassar

Sumur Warga Tercemar Solar

Senin, 23 Maret 2009 14:44 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sumur warga di RT 002/RW 002 Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) tercemar solar.

Ramli, salah seorang warga jalan Inspeksi PAM yang sumurnya tercemar, Senin, mengatakan, sudah empat hari sumur mereka tidak bisa dipakai karena air sudah bercampur dengan solar.

"Sebenarnya bau solar di sumur ini sudah dua bulan, tetapi kita tetap pakai untuk mandi dan cuci, namun sejak Jumat (20/3) sudah tidak bisa lagi digunakan karena solar semakin banyak," katanya.

Menurut dia, sumur tersebut sudah berusia 10 tahun dan mereka pakai untuk keperluan rumah tangga seperti untuk diminum, mandi dan cuci, baru kali ini sumur tersebut tercemar.

Sedang beberapa warga lain yang tinggal sekitar tempat tersebut, sumur mereka juga sudah tercemar solar, tetapi tidak separah yang dialami Ramli.

Haji Manik yang memakai sumur bor yang rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari rumah Ramli mengatakan, sudah dua bulan sumurnya berbau solar.

"Sumur bor di rumah sudah dua bulan bau solar, padahal air sumur tersebut untuk diminum," kata Haji Manik dan menambahkan, terpaksa beli air isi ulang untuk diminum.

Ruslan, warga lain yang tinggal bersebelahan dengan Ramli mengatakan, sekitar dua tahun lalu pipa yang menggalirkan solar dari Pelabuhan Makassar ke PLTU Tello pernah bocor di pertigaan jalan JE Leimene, Inpeksi PAM dan Abdullah Daeng Sirua, tetapi kebocorannya tepat di atas kanal air PDAM sehingga cepat diatasi pihak PLN.

"Sudah satu drum solar hasil penyaringan dari sumur, kami tampung, bila disulut api menyala," kata Ruslan.

Sementara Haris Hamzah, ketua RT 002/RW 002 Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala mengatakan, contoh air sumur sudah dibawa ke PLN, karena diduga ada pipa yang menggalirkan solar ke PLTU bocor.

"Contoh air sudah saya bawa ke bagian instalasi minyak PT PLN, tetapi sampai sekarang belum ada yang datang melihat," katanya.

Menurut dia, warganya banyak mengeluh karena sudah dua bulan terpaksa membeli air isi ulang atau mineral untuk minum, padahal sebelum tercemar, air sumur tersebut dikomsumsi untuk minum.

"Kami sangat berharap instansi terkait melihat langsung ke sumur warga, sehingga sumber pencemaran bisa secepatnya diatasi," ujar Haris.
(T.PK-HK/F003)