
PJSI Sulsel Incar Pelatih Jepang

Makassar (ANTARA News) - Pengprov Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Sulawesi Selatan mengincar pelatih asing asal Jepang dan Korea Selatan untuk persiapan menghadapi PON XVIII Riau 2012.
Sekretaris PJSI Sulsel Azis Parassa, ketika dihubungi di Riau, Senin, mengatakan, keputusan memprioritaskan pelatih kedua negara tersebut karena kualitas dan kapabilitas yang cukup menjanjikan.
Selain itu, kedua pelatih tersebut juga memiliki kelebihan masing-masing. Untuk kualitas pelatih asal Jepang misalnya, dinilai sangat baik untuk teknik. Sebaliknya, pelatih Korsel justru baik untuk fisik.
"Untuk kepastian pelatih mana yang kita pilih nanti tergantung kebutuhan. Jika kualitas teknik atlet yang kurang kita pilih pelatih Jepang begitupun sebaliknya," jelasnya.
Menurut Azis, rencana mendatangkan pelatih asing juga masih tergantung hasil yang diraih para atlet di kejurnas. Artinya, jika berhasil meloloskan lebih banyak atlet, maka rencana mendatangkan pelatih asing lebih besar.
Sedangkan jika PJSI Sulsel pada akhirnya hanya meloloskan sekitar tiga atlet, maka keputusan mendatangkan pelatih asing tentu tidak terlalu maksimal.
"Kita tengah fokus meloloskan lebih banyak atlet sehingga bisa mendatangkan pelatih asing. Saya kira peluang kita besar mengingat masih ada dua kejuaraan yang bisa kita manfaatkan mengumpulkan poin," katanya.
Saat ini, PJSI Sulsel telah meloloskan tiga atlet ke PON XVIII. Ketiga atlet tersebut diantaranya, Satriano di nomor -45 kg, Aditya Wahyudi (-60kg) serta Fanny Pie yang turun di kelas +78kg putri.
PJSI Sulsel juga masih memiliki harapan besar kepada empat atlet lain seperti Suharno (-90kgputra), M Saleh ( -81kgputra), Iklas Zainal (-73kgputra) Yusrin Yusuf di kelas -55kg putra.
Keempat atlet itu berhasil menempati posisi kelima nasional pada kejurnas Piala Wismoyo. Kami berharap seluruh atlet kembali meraiih hasil terbaik di kejuaraan selanjutnya yakni Piala Kapolri dan Piala Kartika, ujarnya. (T.PSO-283/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
