
Pengamat : Usia Capres tidak Perlu Diperdebatkan

Kupang (ANTARA News) - Pengamat politik dari Universitas Muhamadiyah Kupang, Ahmad Atang berpendapat, usia maupun status pendidikan bagi seorang calon presiden (capres) tidak perlu diperdebatkan lagi karena sudah diatur dalam Undang-undang.
Lagi pula, dikotomi tua muda dan tinggi rendahnya pendidikan seseorang calon presiden bukan sesuatu yang sangat substantif, sehingga harus dipersoalkan, kata Ahmat Atang, di Kupang, Selasa.
Pembantu Rektor Satu Universitas Muhamadiyah Kupang ini mengatakan hal itu menjawab pertanyaan seputar wacana syarat umur dan pendidikan calon presiden, apakah ini tidak melanggar UUD dan taktik politik untuk mencegal calon tertentu.
Menurut konstitusi, kata dia, masalah usia calon presiden telah diatur dengan batas minimal 30 tahun tetapi hanya usia maksimal yang tidak ada ketentuan yang mengatur.
Hal inilah yang menjadi persoalan sehingga muncul polarisasi dan dikotomi tua-muda, begitu juga masalah pendidikan terendah adalah SMA.
"Tetapi bagi saya, dua hal ini baik usia maupun pendidikan tidak perlu dibuat pembatasan karena rana politik instrumen seperti itu bukan sesuatu yang substantif," katanya.
Mengenai upaya menjegal calon tertentu, dia mengatakan, wacana pembatasan usia ini tentu muncul terkait dengan perkembangan politik dewasa ini, terutama hasil survei yang menempatkan nama-nama capres yang menguat adalah wajah lama seperti Megawati dan Prabowo.
Menurut dia, siapa pun yang maju untuk bertarung dalam Pilpres 2014 mendatang, sebaiknya semua memberi kesempatan kepada rakyat untuk memilih, apakah tua atau muda, apakah hanya berpendidikan SMA atau doktor.
Rakyat sudah cerdas dan mereka tahu siapa yang pantas dan layak untuk memimpin bangsa ini pasca Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono, katanya.
Karena itu, wacana pembatasan usia bagi calon presiden dan wakil presiden tidak perlu dikembangkan karena justeru akan menimbulkan diskriminasi.
"Saya kira kita jangan lagi bicara soal usia dan juga pendidikan calon presiden dan wakil presiden, jangan membuat diskriminasi. Semua orang punya kesempatan dan terpenting punya integritas, kapasitas , kemampuan untuk memimpin, punya loyalitas untuk rakyat dan dipilih oleh rakyat," katanya.
Artinya, ukurannya bukan usia, tapi kapabilitas, integritas, juga daya dukung yang dimiliki seseorang bila maju sebagai calon presiden," katanya. (T.B017/E001)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
