
Pencitraan JK-Win Harus Lebih Ditingkatkan

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pencitraan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) harus lebih intensif ditingkatkan dalam masa dua bulan jelang pemilihan presiden (pilpres), sebab potensi masalah citra yang diprediksi bakal menghadapi pasangan tersebut.
"Tim sukses JK-Win hendaknya meningkatkan citra karena ada tiga masalah yang akan dialami Wiranto sebagai pasangan JK," kata Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. T.R. Andi Lolo dalam diskusi politik bertema "Mengukur peluang JK-Win maju sebagai presiden-wakil presiden", di Makassar, Rabu.
Menurutnya, masalah pertama yang bakal dihadapi Wiranto adalah bagaimana cara mengalahkan popularitas SBY di Pulau Jawa, sebagai wilayah dengan jumlah suara paling banyak.
Sebab jika Wiranto diasumsikan sebagai figur yang bisa meraup suara di Pulau Jawa, maka mantan panglima TNI itu akan berhadapan dengan beberapa sosok, antara lain SBY, Megawati dan Prabowo.
Masalah kedua, lanjut dia, pencitraan Wiranto di dunia internasional kurang bagus terkait kasus HAM yang pernah menimpanya.
Kendati JK dikenal sebagai figur yang mampu membentuk jaringan internasional dengan baik, namun hal itu tidak akan cukup membantu pencitraan positif internasional Wiranto .
Jangan berpikir bahwa naiknya presiden di suatu negara hanya merupakan kepentingan domestik belaka. Presiden dan Wapres adalah jabatan politis yang juga menjadi perhatian masyarakat internasional, ujarnya.
Dia melanjutkan, masalah ketiga yang dihadapi Wiranto adalah popularitasnya di daerah basis JK di Sulawesi Selatan.
menurutnya, Wiranto selama lima tahun terakhir tidak cukup memiliki popularitas di Sulsel. Padahal, dia menilai, dengan populernya Wiranto di Sulsel akan menambah kinerja mesin politik di basis suara JK.
Mesin politik JK-Win di Sulsel akan bekerja secara penuh jika dua sosok tersebut dikenal secara baik oleh konstituen JK di Sulsel sebagai terbesar di luar Pulau Jawa.
Sementara itu, pengamat komunikasi politik Unhas, Aswar Hasan menilai, elektabilitas JK bisa diketahui jika lawan politiknya sudah menetapkan sikap pasti dengan deklarasi.
"Selama belum ada deklarasi lawan politik JK, maka peluang JK belum belum bisa diketahui. Namun setidaknya, deklarasi JK-Win itu bisa jadi titik awal untuk curi star," katanya.
Dia menjelaskan, peningkatan elektabilitas tergantung pola pencitraan. Namun grafik pencitraan bisa naik turun tergantung insiden apa yang terjadi dan bagaimana mengelolanya.
"Kedepan masih banyak insiden yang terjadi. Pernah SBY mengatakan bahwa silahkan melalui mekanisme hukum yang merasa dicurangi dalam pemilu. Tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika JK mengatakan perbaiki DPT, semua bergerak. Masyarakat membutuhkan pemimpin seperti ini," katanya.
Dia juga mengatakan bahwa saat ini SBY dihinggapi sindrom "Cinderella". Yakni, mencari pasangan sepatu yang saat ini diibaratkan berada di beberapa parpol lainnya.
Sayangnya, banyak parpol yang mengkalim memiliki sepatu itu sehingga menyebabkan perpecahan, baik antara parpol maupun antar internal parpol.
"Ini manuver yang kurang sehat dalam konteks kenegaraan. SBY seakan-akan memberikan angin surga bagi banyak parpol," ujarnya.
(T.PK-AAT/E001)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
