Logo Header Antaranews Makassar

Pelatih Sulsel Pertanyakan Pemecatan Dirinya

Selasa, 31 Januari 2012 03:06 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Pelatih tenis meja Sulawesi Selatan Karyansa mempertanyakan alasan pemberhentian dirinya menangani tim Sulsel menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012.

Pelatih Tenis Meja Sulsel Karyansa, di Makassar, Senin, juga mengaku terkejut dengan keputusan yang diambil Pengprov Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Sulawesi Selatan.

Karyansa juga tidak yakin jika dirinya dipecat terkait kapasitasnya sebagai pelatih. Maklum, tim putri Sulsel justru berhasil meraih tiket pada babak kualifikasi PON, 1-6 Desember 2011.

"Saya memang sudah tidak pernah lagi dihubungi seusai pelaksanaan Pra PON. Saya juga tidak mengetahui sejauh mana persiapan tim menghadapi PON yang akan datang," jelasnya.

Menurut dia, meski tidak mengetahui secara pasti alasan pemecatan dirirnya, namun ia menduga jika keputusan itu terkait protesnya terhadap kepemimpinan Ketua PTMSI Sulsel Rachmat Latief.

Ketua PTMSI Sulsel yang juga Kepala Dinas Kesehatan Sulsel itu dinilai tidak memiliki perhatian, khususnya dalam hal penyediaan peralatan yang dibutuhkan atlet.

"Saya memang sempat disidang terkait kekecewaan kami sesuai pelaksanaan Pra-PON. Mungkin itulah yang membuat saya akhirnya tidak lagi dilibatkan dalam tim," ucapnya.

Sebelumnya, Karyansa mewakili para atlet meminta pengprov PTMSI Sulsel untuk menyiapkan peralatan yang dibutuhkan Pengajuan untuk pengadaan peralatan tersebut juga sudah dilakukan sejak lama namun belum dipenuhi.

Selain masalah peralatan, kendala lain yang dihadapi para atlet yakni ketika memutuskan menggelar uji coba di daerah lain. Untuk biaya akomodasi terpaksa ditanggung masing-masing atlet yang bersangkutan.

Puncak kekecewaan pelatih dan atlet terjadi ketika mengancam mogok mengikuti Pra PON. Ancaman itu sebagai bentuk protes atas keputusan Pengprov PTMSI Sulsel yang hanya memberikan uang saku sebesar Rp300 ribu.

"Harga peralatan yang kami minta itu sebenarnya tidak terlalu mahal yakni sekitar Rp5 juta, namun ternyata jumlah itu masih sangat sulit dikabulkan," ujarnya. (T.KR-DF/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026