
PT Isco "Angkat Kaki" dari Polman

Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan tambang PT Isco dinyatakan telah "angkat kaki" dari Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat, karena tidak tahan terhadap protes masyarakat yang ada di daerah itu.
Kepala Bidang Pertambangan Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulbar Amri Eka Sakti di Mamuju, Jumat, mengatakan, perusahaan tambang PT Isco yang sebelumnya mengelola tambang biji besi di Kecamatan Tapango, Kabupaten Polman sejak tahun 2010 telah mengundurkan diri.
Ia mengatakan, perusahaan tersebut telah menyatakan diri angkat kaki dari Kabupaten Polman karena tidak tahan dan terus menerus mendapat protes dari masyarakat yang menghendaki perusahaan itu berhenti melakukan aktivitas.
Menurut dia, selain dianggap merusak lingkungan, karena aktivitasnya, perusahaan itu diusir masyarakat karena perusahan itu merusak tanaman kakao masyarakat dengan menebangnya untuk dijadikan lahan pertambangan biji besi tanpa ada ganti rugi.
Selain itu, lanjutnya, perusahaan tersebut juga dianggap masyarakat telah merusak hutan lindung dan aktivitasnya mengakibatkan banjir, karena melakukan pembabatan hutan di wilayah yang bukan merupakan areal kekuasaan ijinnya.
"Banjir mengakibatkan masyarakat mengusir perusahaan itu, banjir terjadi karena perusahaan itu merusak hutan lindung, yang selama ini menampung air hujan," ujarnya.
Ia mengatakan dengan angkat kakinya perusahaan PT Isco dari Kabupaten Polman, maka di Kabupaten Polman sudah tidak ada lagi aktivitas pertambangan meski daerah Polman, cukup kaya akan tambang besi.
"Ini pelajaran bagi perusahaan tambang agar dalam mengelola tambang tidak merusak lingkungan serta menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat," katanya.
Ia berharap agar ketika ada perusahaan tambang yang akan berniat berinvestasi mengelola tambang di Kabupaten Polman, tidak meniru PT Isco yang aktivitasnya selalu mendapat protes masyarakat karena menimbulkan dampak sosial dan lingkungan. (T.KR-MFH/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
