
Program "Terang Benderang di Perbatasan" NTT-Timor Leste

Kupang (ANTARA News) - PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur bertekad menuntaskan masalah listrik di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste dalam tahun ini melalui program "Terang Benderang di Perbatasan".
"Tekad kami menuntaskan masalah listrik di wilayah yang berbatasan dengan negara yang baru merdeka itu, karena wilayah perbatasan merupakan serambi depan Indonesia," kata General Manager PT PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur, Ricard Safkaur di Kupang, Jumat.
Dia mengemukakan hal itu terkait komitmen perusahan untuk menyelesaikan masalah listrik di wilayah perbatasan NTT-Timor Leste pada acara perkenalan dengan wartawan NTT di Kupang.
Ricard Safkur, putra asli Papua itu baru menjabat sebagai GM PLN Wilayah NTT menggantikan Santoso Januwarsono.
"Setelah dilantik, saya langsung ke Atambua dan saya menegaskan bahwa semua wilayah perbatasan sudah harus terang paling lambat akhir tahun 2012 karena perbatasan adalah garda terdepan bangsa ini," katanya.
"Artinya, sampai akhir 2012 tidak boleh lagi ada masyarakat yang belum menikmati listrik. Semua desa harus diterangi listrik," katanya menegaskan.
"Perbatasan itu depan rumah kita. Kalau di dapur kotor tidak masalah, tetapi di bagian depan harus ditata rapi karena menjadi pandangan umum masyarakat," ujarnya.
Wilayah-wilayah Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste antara lain, Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan juga Kabupaten Alor.
Dia menjelaskan, pembangunan kelistrikan di daerah-daerah yang berbatasan dengan negara Timor Leste ini, tidak hanya mengandalkan sistem jaringan tetapi juga menggunakan sistem super ekstra hemat energi atau lampu penerangan SEHEN.
Lampu penerangan SEHEN ini merupakan hasil inovasi sendiri oleh karyawan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik, terutama pada daerah-daerah terpencil yang tidak bisa dijangkau dengan jaringan listrik kabel.
Dia menjelaskan, lampu penerangan SEHEN ini tidak menggunakan aki sebagai pembangkit energi tetapi menggunakan baterai kering yang sudah ada dalam bola lampunya.
Baterai ini di cas dengan energi matahari dan mampu bertahan antara 6-60 jam. Tergantung setelan, kalau terang sekali hanya bertahan enam jam, sedang 12 jam dan redup saja untuk lampu tidur saja bisa 12 jam.
Dia menambahkan, pengguna lampu penerangan SEHEN adalah pelanggan PLN yang berada di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik tetapi hanya dibatasi tiga bola lampu untuk penerangan.
"Jika sudah ada jaringan listrik maka secara otomatis, menjadi pelanggan PLN tanpa harus membayar biasa administrasi seperti pemasangan baru," tambah Paul Bola, humas PLN Wilayah NTT.
"PLN tidak mungkin bisa membangun jaringan listrik di seluruh wilayah perbatasan dalam waktu singkat ini. Jadi alternatif bagi desa atau wilayah yang belum terjangkau jaringan adalah menggunakan lambu SEHEN," kata Safkaur menambahkan. (T.B017/L003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
