
Speedboat Tenggelam di MTB Bukan Akibat Tsunami

Ambon (ANTARA News) - Seksie Observasi Stasiun Geofisika kelas 1 Ambon mengatakan, tenggelamnya sebuah speeboat bersama 12 penumpang dan satu awak di perairan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) pada Jumat (12/10), bukan akibat gempa tektonik disertai gelombang pasang atau tsunami.
"BMKG tidak mendata adanya gempa bumi tektonik di wilayah Kabupaten MTB pada Jumat lalu, jadi kecelakaan speedboat di sana murni akibat cuaca ekstrim berupa angin kencang disertai gelombang tinggi," kata Kepala Seksie Obeservasi Stasiun Geofisika setempat, Lukito di Ambon, Senin.
Pada Jumat (12/10) pagi memang terjadi gempa berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang Jayapura hingga Kabupaten Kepulauan Aru dan Kabupaten Maluku Tenggara serta Kota Tual, Maluku.
Gempa ini terjadi pukul 09.31 WIT pada kedalaman 22 Kilo meter dan berpusat di posisi 4,92 Lintang Selatan (LS) dan 130,07 Bujur Timur (BT) sekitar 100 kilo meter arah utara Kota Dobo dan 169 Km arah Timur Laut Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.
Pasca gempa utama yang guncangannya terasa sampai di Kota Tual dan Kabupaten Malra III MMI dan Kabupaten Kepulauan Aru berkisar antara III - IV MMI ini juga terjadi dua kali gempa susulan berkekuatan 5,3 SR dan 5,2 SR.
"Biasanya satu jam setelah gempa utama disertai tsunami tapi itu tidak terjadi, sementara speedboat yang tenggelam pada hari yang sama namun terjadi pukul 12.31 WIT jadi itu bukan akibat gempa tektonik dan tsunami," jelas Lukito.
Sebuah speedboat yang mengangkut Camat Molu Maru, Marthen Bebena serta beberapa kepala desa dan kepala sekolah berangkat dari Desa Slaki pada Jumat (12/10) siang sekitar pukul 12.30 WIT menuju Kecamatan Molu Maru.
Selain Camat, speedboat yang dikemudikan salah satu pegawai honorer kecamatan Molu maru ini juga ditumpangi Kades Wulmase, Wadenkou, Tutunametal dan Kades Murkat bersama Kepala Sekolah Dasar Tutunametal, Kecamatan Molu maru.
Namun setibanya di depan Pulau Labobar, Kecamatan Wuarlabobar sekitar pukul 12.30 WIT, rombongan secara tiba-tiba diserang gelombang tinggi dan masuk ke dalam speedboat hingga tenggelam dan mereka berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang ke Pulau Labobar.
Naiknya gelombang air laut secara mendadak ini yang membuat warga menyangka terjadi gempa tektonik di tengah laut sehingga menyebabkan speedboat yang ditumpangi langsung terbalik.
Lukito mengatakan, kalau terjadi gempa tektonik maka BMKG akan mendata kejadian tersebut, baik kekuatan gempa, pusat dan kedalamannya.
"BMKG tidak mendata adanya gempa tektonik pada Jumat (12/10) siang sekitar pukul 12.30 WIT di wilayah perairan Kabupaten MTB, jadi kecelakaan itu murni akibat cuaca ekstrim," kata Lukito. (T.D008/Y008)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
