Logo Header Antaranews Makassar

Penonton KCB di Makassar Membludak

Kamis, 11 Juni 2009 12:02 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Biaya pembuatan film 'Ketika Cinta Bertasbih' yang mencapai miliaran rupiah, sepertinya tidak sia-sia. Itu terbukti dengan membludaknya jumlah penonton di sejumlah bioskop di Makassar, pada hari pertama pemutarannya, pada Kamis.

Mengenai membludaknya jumlah penonton yang ingin menyaksikan film KCB, memang sudah terlihat mulai pagi, bahkan sejak pukul 10.00 Wita, tiket yang telah tersedia sudah hampir habis, padahal filmnya sendiri baru akan diputar untuk pertama kalinya sekitar pukul 12.15 Wita.

Hal itu diakui langsung oleh salah seorang petugas tiket, Darnia yang saat itu masih sibuk menjelaskan kondisi yang terjadi kepada sejumlah penonton yang baru datang.

"Sejak tadi pagi, penonton sudah membeli tiket film KCB, padahal filmnya sendiri baru mulai akan diputar pada siang harinya," terang Darnia yang ditemui di bioskop Studio 21 di salah satu mal di Makassar.

Menurut Darnia, tiket yang masih tersisa saat ini, hanya tiket yang jadwal penayangannya pada pukul 22.45 Wita, itupun sudah tidak banyak lagi dan bisa dipastikan akan habis sebelum jadwal penayangannya.

"Untuk hari ini, penonton memang sangat banyak yang hadir, mereka umumnya datang memang hanya untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih," terangnya.

Senada dengan Darnia, Irma salah satu penonton, mengaku dirinya memang sengaja datang untuk bisa menyaksikan pemutaran perdana film KCB, sayangnya ia tidak menduga kalau tiket yang tersedia sulit didapat.

Ia beruntung masih mendapatkan tiket walaupun jadwal penayangannya terlalu malam yakni pukul 22.45 Wita.

"Bisa menyaksikan Mesir dari sudut berbeda menjadi hal yang asik, apalagi filmnya juga mengandalkan cerita yang menurut saya luar biasa untuk sebuah film Indonesia," terangnya.

Film yang berasal dari novel Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan sekitar bulan Februari 2008 lalu ini, sudah diprediksi bakal menjadi penguasa tahun ini.

Film ini merupakan film pertama yang pengambilan gambarnya langsung dari Mesir dan akan ditayangkan di delapan negara di Asia.

Film ini bercerita tentang seorang pelajar asal Indonesia bernama Azzam. Azzam adalah mahasiswa S1 Universitas Al Azhar yang selama sembilan tahun belum bisa menyelesaikan kuliahnya.

Untuk bisa hidup di negeri orang, Azzam harus menyambi kerja berjualan tempa, bakso dan jadi tukang masak.

Azzam diceritakan sebagai sosok yang penuh tanggung jawab, ia menjadi tulang punggung keluarga karena sang ayah telah meninggal dunia.

Karena itu, untuk bisa menghidupi Ibu dan kedua adiknya di Indonesia, ia harus tetap berusaha sekeras mungkin walaupun harus mengorbankan kuliahnya sendiri.

Di Mesir ia kemudian dipertemukan dengan sejumlah sahabat seperti, Hafez, Fadhil, Cut Mala, Sara, Furqan yang membuatnya tetap bertahan.

(T.PSO-102/D009)