
ILMIPSI : Radikalisme Berkedok Agama Harus Diwaspadai

Mamuju (Antara News) - Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (ILMIPSI) Provinsi Sulawesi Barat mengingatkan kalangan generasi muda di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat agar mewaspadai gerakan radikalisme mengatasnamakan atau berkedok agama.
"Gerakan radikalisme mengatasnamakan agama patut diwaspadai karena dapat merusak kerukunan hidup, memicu sikap ekstrem yang dapat berujung pada aksi-aksi kekerasan," kata Ketua ILMIPSI Sulbar, Andi Ilham di Mamuju, Jumat.
Generasi muda di Sulbar harus mewaspadai gejolak itu dan mewaspadai munculnya gerakan kekerasan mengatasnamakan agama itu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Menurut dia, pasca runtuhnya kekuasaan orde baru dan masuknya era reformasi semakin terbuka ruang bagi kelompok-kelompok beraliran keras yang cenderung menggunakan cara-cara radikal guna mencapai tujuannya.
"Kelompok itu menghendaki adanya perubahan, pergantian terhadap sistem di masyarakat sampai akarnya, bila perlu menggunakan cara-cara kekerasan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam sebagai agama rahmatal lil alamin yasitu rahmat bagi sekalian alam," ucapnya.
Dikatakan, tantangan generasi muda Islam ke depan tidak ringan, sebagai pemilik dan penaggungjawab kemajuan bangsa dan negara yakni mewaspadai gerakan radikalisme itu jangan sampai merusak tatanan bangsa dan memecah NKRI.
"Islam adalah pembawa Rahmatan Lil Alamin, yaitu agama yang memiliki pengaturan yang lengkap dan sempurna, baik ajarannya maupun metodenya. Islam berasal dari bahasa Arab "aslam" yang berarti selamat, dipahami bahwa Islam adalah agama penyelamat bagi umatnya dan penyelamat umat lain," katanya.
Sehingga ia mengatakan, aksi terorisme tidak dibenarkan dalam ajaran Islam, karena terorisme salah satu bentuk radikalisme yang hanya melahirkan suatu kondisi takut yang nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi, yang tidak sejalan dengan perjuangan Rasulullah.
Teror pernah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia karena radikalisme itu antara lain, peristiwa bom Bali I tanggal 12 Oktober 2002,bali II pada 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran, Bali dan simbol-simbol asing juga tidak luput dari aksi mereka, Bom di Hotel JW Mariott tahun 2003, dan Bom di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton tahun 2009.
. Ia berharap citra Islam harus diluruskan kembali. Cara pandang yang keliru tentang Islam juga harus diluruskan agar radikalisme agama yang menimbulan teror tidak lagi bermunculan.
Di sinilah pentinnya peran strategis generasi muda dalam upaya menangkal radikalisme mengatasnamakan agama, karena posisinya sangat dominan penting sebagai wadah pendidikan Islam untuk terus memberikan pemahaman dengan meluruskan makna Islam agar aksi teror itu tidak terulang lagi
Ia mengatakan, Ilmipsi sendiri akan menggelar kegiatan seminar untuk mendorong generasi muda Islam mewaspadai gerakan radikalisme itu di Gedung PKK Kabupaten Polman tanggal 23 Maret 2013 dengan tema "Peran Generasi Muda Islam Dalam Penguatan Nilai Islam Rahmatan Lil Alamin Untuk Menangkal Aksi Kekerasan Mengatasnamakan Agama".
Acara itu akan dihadiri Kepala Kanwil Depag Polewali Mandar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI Polewali Mandar, Tokoh Akademisi dan Ketua FKUB Polewali Mandar sebagai nara sumber di acara itu.
Editor : M Yusuf
Pewarta : M Faisal Hanapi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
