
14 Polisi Terluka Dalam Bentrokan Walmas

"Bentrokan yang terjadi di Kecamatan Walenrang itu menelan korban luka-luka dan korban jiwa dan tidak sedikit yang menjadi korban dari kedua belah pihak itu," jelas Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Endi Sutendi di Makassar, Selasa.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Sebanyak 14 orang aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi pemekaran wilayah Luwu Raya menjadi Kabupaten Luwu Tengah mengalami luka-luka yang berujung pada bentrokan hingga tewasnya seorang warga Kecamatan Walenrang-Lamasi.
"Bentrokan yang terjadi di Kecamatan Walenrang itu menelan korban luka-luka dan korban jiwa dan tidak sedikit yang menjadi korban dari kedua belah pihak itu," jelas Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Endi Sutendi di Makassar, Selasa.
Ia mengatakan, bentrokan yang terjadi sejak Senin (11/11) itu dipicu oleh tidak terimanya warga setempat yang jumlahnya ratusan hingga lebih dari seribuan orang itu membuka akses jalur Trans Sulawesi.
Massa menolak polisi membuka blokade jalan itu sehingga menimbulkan reaksi dari kumpulan masyarakat yang menginginkan terbentuknya kabupaten baru di wilayah Luwu Tengah.
Polisi yang mendapat lemparan batu dari massa kemudian membalasnya hingga akhirnya bentrokan besar terjadi selama beberapa jam. Bala bantuan kepolisian kemudian berdatangan dan semakin memperkeruh bentrokan tersebut.
"Aparat yang bertugas di lapangan berusaha membuka jalur Trans Sulawesi itu tetapi massa menolak, bahkan menambah material dan menebang pohon sampai akhirnya bentrokan kedua belah pihak tidak terhindarkan," katanya.
Dalam bentrokan yang terjadi selama dua hari itu, beberapa warga dilaporkan terkena peluru dari petugas, namun pihaknya menolak jika peluru yang menghujani sejumlah warga itu dari aparat kepolisian.
Apalagi salah satu dari beberapa warga yang terkena peluru itu dinyatakan meninggal dunia. Candra (25) yang merupakan buruh bangunan itu tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan setelah punggungnya terkena peluru dan tembus ke dadanya.
"Kita masih melakukan penyelidikan apakah betul korban meninggal itu tertembak oleh peluru anggota kami ataukah bukan karena dilokasi kejadian itu banyak sekali senjata yang digunakan, baik oleh aparat maupun dari warga itu sendiri," ucapnya.
Menurutnya, saat terjadi bentrokan di lokasi kejadian, ada beberapa orang yang melihat korban ikut dalam bentrokan. Bahkan, korban terlihat membakar Papporo untuk diledakkan.
Dalam bentrokan fisik melawan ribuan orang pendukung pemekaran Luwu Tengah, polisi tidak sendiri karena mendapat bantuan tenaga dari anggota TNI dengan jumlah total sekitar 700 personel.
"Makanya, kita itu masih akan menyelidikinya lebih jauh lagi karena bukan cuma polisi yang menjalankan tugasnya disana, tetapi kita juga mendapat bantuan dari TNI," ucapnya. Agus Setiawan
Pewarta : Muh Hasanuddin
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
