Logo Header Antaranews Makassar

Mimpi hingga ke Perancis

Senin, 10 Februari 2014 17:19 WIB
Image Print
"Mungkin nanti," jawabku seadanya. Nasi dimasak dengan menggunakan bawang bombay, sehingga terbayang oleh kami semua, apabila di Indonesia nasi ini seperti nasi uduk atau nasi ulam. Lauk yang ditunggu ternyata tidak kunjung tiba.

Mendapat kesempatan studi ke Perancis sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga yang mengantarkan ke bandara, aku baru sadar bahwa aku akan meninggalkan mereka ke sebuah tempat yang cukup jauh.
Empat belas jam lama perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang membuatku sedikit merasa bosan. Hiburan musik, dan film yang disediakan dalam pesawat sepertinya tidak mampu mengurangi rasa gelisahku.

"Mengapa aku harus seperti ini ?" tanyaku sendiri dalam hati. Jaurais dire, banyak orang yang memimpikan ingin pergi ke negara ini.

Aku harus bersyukur, terlebih lagi aku pergi bersama-sama dengan 8 (delapan) orang teman-temanku. Jadi seharusnya aku bisa lebih tegar. Cet exprience est encore plus quune aventure.

Dengan berbekal bahasa Perancis yang tidak terlalu lancar, khawatir, gelisah, dan semangat bercampur menjadi satu.

Doa keluarga pada saat menghantarkan keberangkatanku menjadi energi semangat yang utama. Aku harus bisa melalui masa-masa orientasi.

Aku merantau tidak hanya untuk nama keluarga, tapi juga untuk nama bangsa dan negara Indonesia.

Hari pertama perkuliahan di negeri yang dikenal dengan budayanya yang kaya dengan bahasa yang katanya tersulit di dunia, berhasil aku lalui dengan baik.

Sebuah pemandangan yang menakjubkan di saat makan siang tiba. Semua mahasiswa dan dosen berbaur menjadi satu dalam sebuah kantin yang cukup besar.

Semua antri dengan rapih tanpa ada satupun yang menyela atau menggerutu bahkan terlihat asyik berdiskusi. Budaya antri telah menjadi kebiasaan. Sebuah pelajaran pertama dari Perancis yang sangat berharga.

Pada sebuah kesempatan, seorang Profesor mengundang kami untuk makan malam di rumahnya. "Wow.. asyik," seru kami dalam hati. Walaupun kami dan teman-teman sering membiasakan makan malam bersama di apartemen tapi kangen juga makan dalam suasana rumah.

Sambutan hangat keluarga Profesor benar-benar penuh kejutan. Mereka tidak hanya menyapa dan bersalaman saja sebagai ucapan selamat datang. Saling mencium pipi kiri dan kanan hingga mengeluarkan bunyi, itu dilakukan. Ciuman merupakan simbol keakraban.

"Pardon. Je suis moslem," Sebuah permintaan maaf aku sampaikan karena aku tidak dapat melakukan salam persahabatan tersebut. Mereka membalasnya dengan tersenyum dan sangat toleran. Akhirnya kami hanya berjabatan tangan.

Perancis memiliki budaya kuliner dengan etika di meja makan yang tetap dipegang hingga sekarang. Acara dinner ala Perancis diawali dengan makanan pembuka berupa sup (pot-au-feu) yang berbentuk sup kental dan salad.

Hidangan kedua merupakan makanan utama berupa kerang bakar (mul), escargot, dan disiapkan wine bagi yang mau sebagai penghangat badan. Hidangan terakhir ditutup dengan buah-buahan, es krim dan biskuit.

Tiba-tiba seorang teman membisikan bahwa isteri Profesor akan menghidangkan nasi malam ini. Terbayang oleh kami nikmatnya makan nasi di tengah-tengah suasana yang teramat dingin. Terlebih lagi, nasi benar-benar merupakan makanan "mewah" buat kami selama di Perancis.

Begitu hidangan nasi panas dikeluarkan, teman-teman terlihat sudah tidak sabar untuk menikmati. Aku meminta diambilkan hanya sedikit saja karena perut sudah berasa teramat kenyang setelah menyantap kerang bakar (mul) dan escargot yang benar-benar nikmat rasanya.

Aku melirik ke arah piring teman-teman, semuanya terisi nasi dengan penuh. Setelah Profesor selesai mengisikan nasi ke piring kami satu persatu dan mengucapkan bon appetit (sebuah tradisi orang Perancis) teman-teman saling melirik dan berbisik, "lauknya mana ?". Aku hanya tersenyum.

"Mungkin nanti," jawabku seadanya. Nasi dimasak dengan menggunakan bawang bombay, sehingga terbayang oleh kami semua, apabila di Indonesia nasi ini seperti nasi uduk atau nasi ulam.
Lauk yang ditunggu ternyata tidak kunjung tiba.

Sementara menu nasi versi Perancis harus segera dimakan. Suapan pertama membuat kami sedikit terkejut. Ternyata ini benar-benar rasa nasi "asli" alias tanpa rasa.

Seorang teman tidak kehabisan akal, diambilnya garam yang memang telah disiapkan di meja. Dengan terpaksa kami semua mengikuti. Malam ini praktis menu nasi kami praktis hanya dengan garam.

Di balik itu semua ada sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil. Walaupun dengan segala keterbatasan pengetahuan tentang kuliner Indonesia, mereka masih tetap menghargai dengan menghidangkan nasi yang merupakan makanan pokok orang Indonesia.

Alhamdulillah, suasana perkuliahan yang semula dikhawatirkan ternyata pada akhirnya berjalan dengan lancar. Tanpa kesulitan yang berarti. Susana di luar ruang perkuliahan yang memang selalu hening membuat kami lebih mudah berkonsentrasi.

Mengunjungi pusat pertokoan di Paris merupakan sebuah kewajiban yang tidak boleh dilupakan. Terlebih lagi Paris merupakan pusat mode dunia. Naik metro (sejenis kereta listrik) merupakan pilihan yang tepat.

Berbekal peta di tangan, kami mencoba menetapkan rute yang tepat. Dikarenakan hari Minggu semua pertokoan tutup maka kami menetapkan untuk pergi di hari Sabtu yang kebetulan juga tidak ada kuliah.

Penetapan tujuan menjadi penting, karena tidak menginginkan waktu terbuang percuma. Pilihan ditetapkan naik metro turun di stasiun Gare du Nord dan berjalan kaki u ke Avenue des Champs Elysees, sebuah pusat pertokoan yang bergengsi di Paris, menyusuri sungai Seine, melihat Menara Eiffel dan terakhir naik metro ke Blanche untuk melihat kehidupan malam di Moulin Rouge.
Suasana Paris di bulan Oktober belum terlalu dingin.

Dengan bantuan coat dan syal badanku masih cukup bisa bertahan di suhu sekitar 70 hingga 140 C. Payungpun senantiasa tak pernah aku lupakan untuk dibawa begitu juga minuman dan makanan. Stasiun di Paris tidak pernah terlihat sepi.
Transportasi publik di kota ini benar-benar telah tertata dengan tertib dan rapi. Metropun selalu datang dengan tepat sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Dengan memasukan uang sebesar 13 ke dalam mesin, aku mendapatkan 10 tiket metro. Berjalan dengan cepat sudah menjadi sebuah kebudayaan bagi orang Perancis. Pada saat menaiki escalator sebagian besar mereka mengambil posisi sebelah kiri sambil berjalan.

Pada pagi hari ini aku benar-benar ingin menikmati perjalanan, oleh karenanya aku tidak mengikuti budaya mereka, aku lebih memilih posisi diam ketika di escalator dan memilih posisi berdiri di sebelah kanan.

Berbelanja di kota Paris yang benar-benar cantik bukan menjadi tujuanku. Teringat papan-papan billboard yang banyak dipasang di Indonesia, dengan bertuliskan: "Uang negara harus dibelikan produk dalam negeri", menjadikanku sayang membelanjakan jadup (jatah hidup, uang harian) untuk hal-hal yang tidak penting. Menurutku kualitas barang-barang di Indonesia juga tidak kalah bagus.

Tanpa terasa kami telah memasuki hari terakhir keberadaan kami di Perancis. Pihak universitas memberikan kesempatan untuk performing arts berupa pertunjukan wayang golek yang memang telah dijadwalkan sebelum keberangkatan ke Perancis.

Pertunjukan wayang golek dengan kolaborasi film keindahan alam Indonesia dan musik tradisional sunda benar-benar mendapat apresiasi yang luar biasa. Lakon yang dimainkan adalah Gatotkaca Sang Pahlawan Kebajikan.

Dialog yang menggunakan bahasa Indonesia, Sunda dengan sedikit selingan bahasa Inggris dan Perancis membuat para undangan tertawa terpingkal-pingkal.

Mereka bukan hanya tertarik dengan cerita tapi juga melihat kemahiran sang dalang menggerakan wayang. Malam itu pertunjukan wayang golek Indonesia benar-banar membuat terkagum-kagum para undangan yang sebagian besar mahasiswa dari berbagai negara. Bahkan setelah pertunjukan selesai sebagian besar undangan menuju stage dan terlihat antusias ingin mempelajari bagaimana memainkan wayang golek.

Di antara mereka terdengar decak kagum sambil berkata La merveilleuse Indonesie. "Kami ingin sekali datang ke Indonesia. Indonesia benar-benar indah yah", ucap mahasiswa Perancis jurusan Bahasa Indonesia dengan terbata-bata karena dipengaruhi oleh logat Perancis.

Ada juga yang mengatakan "les indonesiens a ete connus par se gentillesse. Et aussi, je voudrais bien venir a indonesie".

Wow, mereka berpendapat, bahwa orang-orang Indonesia begitu ramah dan baik, dan mereka ingin datang ke Indonesia. Semoga budaya Indonesia terus mendunia.

Kami juga berharap semoga tidak ada lagi pertanyaan, "Letak Indonesia sebelah mana Bali, atau budaya Indonesia apakah lebih bagus daripada Bali ?".

Sayup-sayup terdengar adzan subuh. Ternyata aku bermimpi. Cerita ibu siang tadi sepulang dari Eropa terbawa ke alam mimpiku.

*) Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Makassar.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026