
KERAHKAN POLISI ANTISIPASI BENTROKAN

Makassar, 24/11 (ANTARA) - Kapolda Sulsel, Irjen Pol Sisino Adiwinoto, menyiagakan pasukannya untuk mengamankan kasus sengketa tanah yang menyebabkan tiga warga Kabupaten Gowa dan Takalar tewas, di Makassar, Senin.
"Saya sudah perintahkan anggota saya untuk siaga di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Karena dikhwatirkan aksi ini akan berlanjut jika tidak cepat ditangani," ujarnya.
Menurutnya, perselisihan yang menyebabkan hilangnya nyawa beberapa orang seharusnya tidak perlu terjadi karena aparat dari Desa hingga ke Pemerintah Daerah (Pemda) sudah mulai menyelidiki siapa yang paling berhak atas kepemilikan lahan tersebut.
"Kedua kelompok masing-masing mengklaim memiliki surat pembayaran pajak tanah (SPPT), makanya kedua kelompok dari dua Kabupaten berbeda ini saling klaim, apalagi lahan yang dipersengketakan itu berada di tapal batas Kabupaten," katanya.
Semua ini, lanjut mantan Kadiv Humas Mabes Polri, karena adanya oknum-oknum tertentu yang mencoba menyebarkaan fitnah dan sengaja memancing suasana sehingga kedua kelompok bisa saling beradu.
"Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus sengketa lahan yang luasnya mencapai 1,5 hektare. Untuk sementara kami masih memeriksa satu orang yang dianggap sebagai provokator," katanya.
Sebelumnya, bentrokan warga yang dipicu sengketa lahan ini melibatkan warga Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, dan Warga Desa Towata, Kecamatan Polongbangkeng Utara (Polut) Kabupaten Takalar.
Dalam bentrokan itu, tiga warga tewas di lokasi kejadian, serta satu lainnya menderita luka serius dan kini masih terbaring kritis di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Warga yang tewas masing-masing Haeruddin Dg Nompo (40) kepala Dusun Je'ne Tallasa, Desa Towata, Polut Takalar, serta Syahruddin Dg Lawa (48) warga Dusun Belampang Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Gowa, dan Dg Rahim (70) warga Dusun Te'bakang, Kecamatan Bajeng, Gowa.
Haeruddin tewas dengan usus terburai akibat tikaman badik di perut kanannya. Lengan kiri dan pergelangan tangan kanannya juga terluka bekas sabetan benda tajam.
Sementara Syahruddin tewas dengan dua luka tusukan badik di dada kanan serta leher, serta Rahim meregang nyawa dengan luka serius di leher kiri, dada kiri, tangan kiri dan kanan, kepala sebelah kiri, serta punggung kiri dan kanan.
Ketiganya menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah insiden itu pecah. Diduga korban tewas karena luka serius dan pendarahan hebat yang dialaminya.
Masing-masing korban baru dievakuasi setelah puluhan warga dari kedua desa di kabupaten bertetangga itu tiba di lokasi kejadian.
Sedang yang luka serius dan terbaring kritis di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar adalah Baharuddin Daeng Nyampa (38). Warga Dusun Belampang, Gowa yang juga adik Syahruddin ini menderita luka di bagian perut, punggung dan paha bekas tikaman badik.
Satu korban luka lainnya adalah kerabat dekat Haeruddin. Korban luka tersebut bernama Hamzah Dg Siga, (42).
Imbas bentrokan berdarah itu, satu rumah milik warga Dusun Tanakaraeng ludes dibakar massa dusun setempat. Pemilik rumah bernama Dg Pasang yang diketahui sebagai keponakan Haeruddin. Yang bersangkutan ikut terlibat bentrokan tersebut dan telah diamankan oleh aparat kepolisian Polresta Gowa dengan status tersangka.
Bentrokan dipicu oleh sengketa kepemilikan lahan 1,5 hektare. Lahan tersebut, saat ini masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan Polresta Gowa. Kedua kubu yang bersengketa, mengklaim lahan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa itu milik mereka.
Kedua kubu sama-sama memegang bukti surat pembayaran pajak tanah (SPPT), yang diperoleh dari pemerintah setempat. ***7***
(T.PK-MH/B/F003/F003) 24-11-2008 19:09:01
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
