Makassar (ANTARA) - Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Munafri Arifuddin menyatakan proyek strategis pemerintah, seperti stadion bertaraf internasional, bisa menjadi penopang ekonomi dan identitas kota Makassar.
"Proyek strategis ini tak lagi sekadar wacana, melainkan telah masuk dalam tahap serius, yakni perencanaan teknis dan persiapan legalitas," ujarnya di Makassar, Senin.
Munafri Arifuddin dalam forum Final South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) itu memaparkan jika proyek investasi itu penting, apalagi sejak 2020 Makassar mengalami kekosongan infrastruktur olahraga, khususnya stadion yang layak digunakan untuk pertandingan nasional dan internasional.
Akibatnya klub legendaris PSM Makassar harus mencari markas sementara di luar kota. Padahal Kota Makassar adalah kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur.
"Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,56 persen, wilayah 175,77 kilometer persegi dan populasi 1,4 juta jiwa, sangat ironis jika tidak memiliki stadion sendiri yang layak dan representatif," katanya.
Rencananya, stadion itu akan dibangun di atas lahan seluas 13 hektare di kawasan Untia, dengan kapasitas 15.000 penonton dan luas bangunan mencapai 6,7 hektare.
"Fasilitas utama mencakup tribun penonton, lapangan utama, ruang VIP, parkiran luas, dan sistem digitalisasi penuh," katanya.
Menurutnya, stadion Untia ini dirancang dengan sistem pencahayaan modern di atas 2.000 lux panel surya sebagai energi terbarukan hingga Video Assistant Referee (VAR). Akses menuju stadion juga mudah dijangkau dari pusat kota melalui tol dalam waktu 30–45 menit.
VAR adalah teknologi yang digunakan untuk membantu wasit mengambil keputusan lebih akurat selama pertandingan. Sistem ini melibatkan tim wasit tambahan yang memantau video langsung dari ruang kontrol.
"Pemerintah kota bahkan merancang kawasan stadion sebagai sport and entertainment district yang bebas kendaraan pribadi. Shuttle bus akan disiapkan untuk menjamin aksesibilitas inklusif dan ramah lingkungan," tuturnya.
Ia mengaku estimasi investasi untuk membangun stadion mencapai Rp453 miliar. Stadion ini dirancang melalui skema public-private partnership dengan pendekatan Build-Operate and Transfer (BOT), dengan memanfaatkan Barang Milik Negara/Daerah berupa tanah oleh pihak lain.
"Kontrak konsesi dirancang selama 30 tahun dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 13,7 persen berdasarkan skenario optimistis," ucapnya.

