Logo Header Antaranews Makassar

Polda Sulsel siapkan 454 personel gabungan tanggap darurat bencana hidrometeorologi

Kamis, 6 November 2025 12:02 WIB
Image Print
Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro (kiri) memeriksa pasukan pada Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Bencana Alam di Lapangan Upacara Mapolda Sulsel, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/11/2025). ANTARA FOTO/Hasrul Said.

Makassar (ANTARA) - Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyatakan 454 personel gabungan disiapkan untuk mengantisipasi dan menanggulangi bila terjadi bencana hidrometeorologi pada puncak musim penghujan November 2025-Februari 2026 .

"Ada kebijakan Bapak Kapolri terkait dengan kesiapan tanggap darurat. Kita ketahui bersama bahwa bulan November, Desember, sampai mungkin dengan Januari Februari ini (puncak musim hujan)," kata Kapolda disela apel kesiapsiagaan di Makassar, Rabu.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim penghujan masih berlangsung, sehingga diprediksi dapat terjadi bencana bila melihat peristiwa yang terjadi tahun sebelumnya. Oleh karena itu kesiapsiagaan tanggap darurat wajib dilaksanakan.

"Ini sebuah pertimbangan kita untuk melaksanakan kesiapan kesiapan tanggap darurat terkait dengan yang terjadi di sini. Biasanya, terjadi banjir dan tanah longsor melihat situasi yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya," ujar Kapolda Djuhandhani.

Untuk itu sebanyak 454 personel gabungan telah disiapkan dan terlibat untuk melaksanakan kesiapsiagaan darurat bencana. Rincian pasukan yakni 144 personel dari Polri, sebanyak 120 personel dari TNI, serta 190 personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Basarnas disiagakan.

"Tapi, kita juga punya cadangan-cadangan (personel), manakala ada tempat atau daerah yang penanganannya lebih krusial. Kita bisa melaksanakan pergeseran pasukan dan lain sebagainya bila diperlukan," tuturnya.

Apel kesiapsiagaan gabungan yang dilaksanakan tersebut, kata dia, untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa negara hadir dan siap membantu dan menjadi pengayom serta memberi pelindungan.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Amson Padolo mengingatkan semua daerah di Sulsel memiliki potensi bencana hidrometeorologi, sehingga diperlukan mitigasi dan kesiapsiagaan.

Sebab sejauh ini anomali cuaca dan krisis iklim masih menjadi ancaman yang dapat mengakibatkan bencana banjir, bencana alam tanah longsor, dan lainnya, karena tidak bisa diprediksi kapan terjadi.

"Dari peta potensi bencana banjir bisa terjadi di Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Wajo pada sebagian wilayahnya rawan banjir. Tapi sekarang, hampir semua daerah menjadi rawan banjir, termasuk di daratan tinggi seperti Kabupaten Toraja dan Enrekang, itu pernah banjir," katanya.

Untuk itu pihaknya mengingatkan, sekaligus mengimbau setiap pemerintah daerah di 24 kabupaten/kota se Sulsel melakukan pemetaan wilayah rawan banjir serta memitigasi daerahnya masing-masing dengan menyiapkan segala bentuk antisipasinya.

"Langkah dilakukan saat ini, kita mulai mengantisipasi dengan menyiapkan posko-posko kedaruratan, termasuk kesiapan personil, memperkuat komunikasi informasi dan edukasi terkait kebencanaan, Ini perlu dijalankan agar memudahkan penanganan," tuturnya.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026