Makassar (ANTARA) - Pengamat antropologi dan geopolitik dari Boston University Prof. Robert W Hefner menyampaikan sekaligus memuji posisi strategis Indonesia dalam upaya mewujudkan perdamaian global.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum internasional yang menyoroti konflik kemanusiaan di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan yang berlangsung di UIN Alauddin Makassar, Senin.
Dalam penjelasannya, Prof. Hefner menekankan konsep istiqlal al-azim atau kemerdekaan agung menjadi fondasi moral yang membentuk karakter politik Indonesia di mata dunia Islam.
Ia menyebut wilayah selatan dunia Islam menyimpan nilai-nilai asli yang sering kali luput dari perhatian para analis Barat.
Prof. Hefner mengungkapkan di Afghanistan terdapat struktur kepemimpinan alternatif yang sering disebut sebagai kelompok “nomor dua” namun selama ini menjalin hubungan diam-diam dengan Indonesia.
Menurutnya, kerja sama itu menjadi bukti bahwa Indonesia dianggap mitra terpercaya dalam proses rekonsiliasi politik.
"Banyak pihak di Barat tidak mengetahui bahwa sejumlah pemangku kepentingan Afghanistan pernah menjalin komunikasi intensif dengan para perwakilan Indonesia. Ini menunjukkan kualitas diplomasi Indonesia dalam membangun jembatan dialog,” kata Hefner.
Ia menilai harmoni antara pemerintah Indonesia, Kementerian Agama, serta organisasi sosial-keagamaan menjadi kunci keberhasilan diplomasi ini.
Dalam forum tersebut, Hefner menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki kapasitas moral dan politik untuk memainkan peran sebagai mediator konflik Palestina–Israel.
Menurutnya, ada tiga syarat bagi sebuah negara untuk berperan dalam penyelesaian konflik besar yakni kepemimpinan cerdas, keahlian strategis, dan komitmen moral yang konsisten.
Hefner kemudian menyinggung Presiden Prabowo Subianto yang dianggapnya memiliki sensitivitas politik, keberanian mengambil keputusan cepat, serta dasar intelektual yang jarang dimiliki tokoh militer.
“Prabowo punya ketertarikan serius pada filsafat klasik, termasuk Aristoteles. Ini membentuk cara pandangnya dalam memadukan strategi militer dan etika kepemimpinan,” ucapnya.
Bersamaan dengan penuturan pengamat politik di Amerika, lebih jauh, Hefner menegaskan bahwa keunikan Indonesia terletak pada kemampuannya memadukan identitas keagamaan yang kuat dengan pragmatisme kenegaraan.
Berbeda dari negara-negara Barat yang sekular dan materialistis, Indonesia membangun kekuatan nasional melalui pendekatan moral, sosial, dan spiritual.
“Indonesia tidak mengedepankan materialisme atau individualisme ekstrem. Negara ini justru bertumpu pada nilai-nilai keagamaan yang moderat dan membumi,” jelasnya.
Ia menyebut bahwa perpaduan antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan pemerintah menjadi fondasi kokoh dalam menjaga moralitas publik, solidaritas sosial, dan tata kelola pembangunan nasional.
Menurut Hefner, keberhasilan Indonesia menjaga harmoni agama, kerja sama sosial, dan stabilitas politik menjadikannya model peradaban yang relevan bagi dunia Islam modern.
“Indonesia menunjukkan bagaimana spiritualitas, rasionalitas, dan kekuatan negara bisa disatukan untuk melahirkan masa depan yang damai,” tuturnya.
Pengamat menilai kombinasi tersebut menjadikan Indonesia siap memainkan peran aktif dalam diplomasi dunia Islam.

