
67 Madrasah Ikuti Pelatihan Profesi Guru

Polman, Sulbar (ANTARA Sulsel) - Sebanyak 67 Madrasah di bawah bimbingan Departemen Agama Sulawesi Barat, di Polewali Mandar mengikuti pelatihan profesi guru yang diadakan oleh DDI (Darul Dakwa Wal Irsyad) di rumah jabatan Bupati Polman, Selasa.
Dari setiap madarasah mebutuhkan nasing-masing tiga orang kemudian ditambah dengan Kepala Sekolah masing-masing. Ungkap Drs. Anwar Sewang, M.Si, Ketua DDI Polman.
Kepala Kanwil Agama Sulbar dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bernilai positif. Seluruh guru dituntut kesediannya untuk mewujudkan generasi yang cerdas dan mampu berbuat untuk agama dan negara.
Juga, ditekankan kepada seluruh guru di bawah bimbingan Departemen Agama untuk menjadi guru yang handal sebagai salah satu kunci penentu arah generasi ke depan. Dari situ juga Kakanwil Agama Sulbar mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan di bawah naungan Depag sangat signifikan.
Kemudian sebuah harapan yang sempat terlontar dari Pejabat Birokrasi Provinsi tersebut adalah tidak diharapkannya madrasah yang ada di Sulbar mempunyai sarana dan prasaran yang kumuh, minimal dapat setara dengan sekolah umum lainnya yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Olah Raga.
Prof. Muis Kabri, Ketua Umum Rois A'la DDI mengatakan kepada semua guru-guru yang hadir bahwa hidup matinya Darul Dakwa Wal Irsyad berada di tangan para pembina di madrasah-madrasah.
Dari dua puluh empat Provinsi di wilayah Indonesi potensi DDI termasuk diperhitungkan dengan alasan bahwa Nahdatul Ulama yang notabene adalah DDI juga banyak menguasai pedesaan sedangkan aliran Muhammadiyah hanya tumbuh di perkotaan lalu keberadaan penduduk indonesia 85 persen berada di pedesaan.
A. Alibal Masdar, M.Si yang juga Bupati Polewali mandar sedikit berbicara mengenai keadaan Polewali Mandar yang sebenarnya, dengan alasan bahwa mengetahui latar belakang daerah sendiri adalah modal utama untuk menegakkan pendidikan yang bebas dari pengaruh globalisasi.
Alibal Mandar kembali mengatakan bahwa sebenarnya bangsa ini punya potensi yang sangat luar biasa untuk maju. Namun terkadang selaku warga negara kita telah menggadai ideologi kita sendiri.
Liberal, Kommunis, Islam dan kerajaan adalah sistem pemerintahan yang berlaku di luar Indonesia, namun mereka tetap saja maju dan dapat berkembang dengan baik.
Dengan menjiplak konsep luar negari yang notabene tidak sefaham dengan konsep Indonesia akan menimbulkan rasa tidak bangga terhadap bangsa sendiri dan dengan sendidrinya akan memberikan nilai negatif terhadap penduduk kemudian tidak lagi ada nasionalisme dalam diri.
(T.PSO-105/F003)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
