Makassar (ANTARA) - Subholding Pelindo Jasa Maritim (SPJM) menggandeng Panti Rehabilitasi Sentra Wirajaya Kementerian Sosial RI di Makassar memberdayakan difabel melalui pemberian bantuan peralatan, pelatihan, dan pemasaran
"Kegiatan ini dimaksudkan agar difabel dapat mandiri dan produknya memiliki daya saing," kata SPV Sekper SPJM Tubagus Patriick di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.
Pada rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional, dua lembaga ini saling membantu memberikan pendampingan pada para difabel.
Menurut dia, kolaborasi dua institusi ini lahir dari masih rendahnya daya saing produk yang dihasilkan difabel, serta keterbatasan akses pemasaran.
Oleh karena itu, dia berharap melalui kolaborasi tersebut, SPJM berupaya memperkuat kemandirian difabel, termasuk melalui pembinaan usaha dan perluasan jaringan pemasaran.
“Ini menunjukkan teman-teman difabel bisa menghasilkan produk yang berkualitas, jika diberi pelatihan dan bantuan fasilitas. Nantinya, SPJM juga akan membantu dari sisi pemasaran,” ujar Tubagus.
Ia menjelaskan, inisiatif tersebut menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan, dengan target melahirkan lebih banyak difabelpreneur yang dapat bertahan dan berkembang di lapangan usaha.
Kepala Sentra Wirajaya Kemensos RI Andi Nur Alam mengapresiasi dukungan SPJM yang tidak hanya memberikan bantuan alat bantu, namun juga pelatihan kemandirian bagi para difabel, termasuk pembuatan batik ciprat dan sejumlah kerajinan dengan berbagai motif.
“Pelindo sudah membuktikan komitmennya. Selain bantuan alat, ada pelatihan-pelatihan keterampilan yang mendukung kemandirian difabel,” ujarnya.
Program pemberdayaan yang dijalankan SPJM bersama Sentra Wirajaya diyakini mampu memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas, sekaligus mendorong kontribusi ekonomi melalui produk dan jasa yang memiliki daya saing di pasar.
Sementara itu, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Makassar Smawal mengatakan, para difabel hanya ingin diberi ruang untuk dapat akses ekonomi yang sama dengan yang normal.
"Kami ingin bisa berkreasi dan hasilnya bisa dipasarkan sama dengan yang lain, agar kami bisa mandiri, karena kami tidak butuh belas kasihan, hanya ingin diberi ruang saja," ujarnya.


