
Hilal tak terlihat di Sulsel saat rukyat

Makassar (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Selatan melaksanakan rukyatulhilal penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah pada Minggu, di Menara Iqra Universitas Muhammadiyah, namun hasil pemantauan itu hilal tak terlihat.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid di Makassar, Minggu, mengatakan secara astronomi posisi hilal sebenarnya telah memenuhi syarat imkanur rukyat yang ditetapkan pemerintah dan negara-negara MABIMS.
“Berdasarkan hasil perhitungan dan pemantauan bersama BMKG serta tim hisab rukyat Sulawesi Selatan, tinggi hilal sebenarnya sudah memenuhi syarat. Untuk kriteria MABIMS juga sudah terpenuhi karena berada di atas 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat,” katanya.
Ia menyebutkan berdasarkan data BMKG tinggi hilal di angka 4,32 derajat, sedangkan hasil perhitungan Badan Hisab Rukyat Sulsel pada posisi 4,20 derajat dan matahari terbenam pada pukul 17.54.50 Wita.
Meski secara data astronomi peluang terlihat hilal cukup besar, kondisi cuaca menjadi kendala utama proses rukyat di Makassar.
“Kendala kita di Sulawesi Selatan hari ini adalah cuaca. Kota Makassar sejak sore hingga pukul 18.20 Wita tertutup awan tebal sehingga hilal tidak terlihat,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan rukyatulhilal dilaksanakan di lantai 18 Menara Iqra Unismuh Makassar dan keputusan Pengadilan Agama Makassar, hilal dinyatakan tidak terlihat di Sulawesi Selatan.
“Dari hasil pemantauan dan keputusan Pengadilan Agama Kota Makassar itulah yang kemudian akan kita laporkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan sidang isbat penentuan 1 Zulhijah 1447 Hijriah,” katanya.
Rektor Unismuh Makassar Abd Rakhim Nanda menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementerian Agama yang kembali menjadikan observatorium Unismuh sebagai lokasi rukyatulhilal tingkat Sulsel.
“Alhamdulillah, observatorium Unismuh Makassar kembali dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan rukyatulhilal yang diselenggarakan Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Ini menjadi bentuk sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan Kementerian Agama dalam pelayanan keagamaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan keberadaan observatorium di Unismuh memungkinkan proses pemantauan hilal dilakukan secara maksimal.
“Di Unismuh kami memiliki fasilitas observatorium yang mendukung proses rukyat. Kami hanya memfasilitasi dan menjadi tuan rumah, sementara pelaksanaan rukyat dilakukan oleh Kementerian Agama bersama tim hisab rukyat dan BMKG,” katanya.
Dia mengatakan secara astronomi posisi hilal di Makassar sebenarnya telah memenuhi kriteria imkanur rukyat MABIMS.
“Kalau melihat data hari ini, tinggi hilal di wilayah Makassar sudah berada di kisaran 4 derajat dengan sudut elongasi di atas 9 derajat. Secara kriteria MABIMS ini sudah memenuhi syarat imkanur rukyat,” tuturnya.
Ketua Tim Kerja Geofisika BMKG Sulsel R Jamroni menyampaikan secara umum posisi hilal di Indonesia telah memenuhi syarat visibilitas.
“Secara data astronomi, ketinggian hilal dari wilayah barat sampai timur Indonesia positif. Bahkan yang tertinggi berada di Aceh sekitar 7 derajat. Namun khusus Sulawesi Selatan, hilal tidak terlihat karena kondisi alam dan tutupan awan yang cukup tebal,” katanya.
Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Sulsel Abd Gaffar menambahkan rukyatulhilal bukan sekadar proses astronomi, tetapi bagian dari pelayanan keagamaan pemerintah kepada masyarakat.
“Kita mengedepankan sinergi antara ilmu falak, data astronomi, dan hasil rukyat lapangan agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat diterima bersama,” katanya.
Meski hilal tidak berhasil terlihat di Makassar akibat cuaca mendung, pelaksanaan rukyatulhilal di Menara Iqra Unismuh Makassar tetap berlangsung khidmat dan menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, ulama, dan lembaga sains dalam mengawal penetapan kalender hijriah di Indonesia.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
