Logo Header Antaranews Makassar

Pemprov Sulsel fokus antisipasi lonjakan harga jelang Ramadhan

Senin, 16 Februari 2026 13:13 WIB
Image Print
Suasana Pasar Terong di Kota Makassar yang menjual aneka kebutuhan pokok. (ANTARA/Maisyarah Djamade)

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berfokus mengantisipasi lonjakan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026 ataupun Imlek.

Sekda Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman dalam keterangannya di Makassar, Senin, mengatakan 11 poin strategis sudah disiapkan dimana lima poin difokuskan pada pengendalian inflasi daerah, sementara enam poin lainnya menguatkan percepatan dan perluasan digitalisasi transaksi pemerintah daerah.

“Pertama, melaksanakan GPM dengan prinsip ‘3T+1’, tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas secara masif dengan fokus pada komoditas utama penyumbang inflasi pada HBKN dan berada di atas HET seperti beras, aneka cabai, bawang merah, minyak goreng, telur ayam ras, dan gula pasir,” ujarnya.

Poin kedua, kata dia, tim pengendali inflasi daerah (TPID) menekankan optimalisasi kerja sama antar daerah (KAD) dengan memanfaatkan data neraca pangan dan prakiraan cuaca BMKG, termasuk penyediaan buffer stock sebagai antisipasi gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem serta penerbitan Peraturan Bupati terkait Cadangan Pangan.

Langkah berikutnya adalah memastikan kelancaran distribusi dan penyerapan beras SPHP dan Minyakita melalui koordinasi intensif antara Bulog dan pemerintah daerah, khususnya di wilayah defisit dan daerah dengan harga di atas HET.

“Mendorong penggunaan BTT (Belanja Tak Terduga) untuk bantuan ongkos angkut komoditas inflasi, mendorong imbauan moral dan komunikasi publik Belanja Bijak serta mengoptimalkan program urban farming untuk menanam barito—bawang, cabai, dan tomat—di lahan atau pekarangan kosong,” sebutnya.

Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi mengatakan inflasi bulanan Januari 2026 berdasarkan data BPS tercatat sebesar 0,47 persen sedikit melandai dibandingkan Desember 2025 yang berada pada angka 0,49 persen. Namun secara tahunan, inflasi Sulsel tercatat sebesar 4,11 persen year on year.

“Ini mengindikasikan tekanan harga berpotensi meningkat apabila inflasi bulanan tetap tinggi secara konsisten,” tegas Fatmawati Rusdi.

Ia mengungkapkan, sejumlah komoditas pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi antara lain beras, aneka cabai, ikan bandeng, ikan layang, ikan cakalang, telur ayam ras, hingga udang basah.

Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, potensi gangguan pasokan pada komoditas strategis tersebut perlu diantisipasi sejak dini.

Berdasarkan analisis spasial harga komoditas per awal Februari 2026, beberapa komoditas strategis tercatat berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).

Salah satunya adalah cabai rawit yang sebelumnya berperan sebagai penahan laju inflasi, namun kini menunjukkan tren kenaikan harga di sejumlah wilayah.

Dari sisi inflasi tahun kalender, Sulawesi Selatan per Januari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,47 persen year to date. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar -0,75 persen dan tahun 2024 sebesar 0,36 persen. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya langkah antisipatif yang lebih terukur dan terkoordinasi.

“Intervensi stabilisasi harga dan penguatan pasokan pangan harus digencarkan. TPID kabupaten/kota harus fokus pada komoditas strategis dan bergerak cepat berbasis data,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026