Logo Header Antaranews Makassar

Atase Agama Kedubes Saudi menekankan kepemimpinan yang amanah

Selasa, 24 Februari 2026 10:50 WIB
Image Print
Kepala Atase Agama Kedubes Arab Saudi Sheikh Ahmed bin Essa Al-Hazmi memberikan materi kepemimpinan amanah pada kegiatan Ramadhan Leadership Camp di Asrama Haji Makassar, Sulsel, Selasa,(24/2/2026). ANTARA/HO-Humas Pemprov Sulsel (.)

Makassar (ANTARA) - Kepala Atase Agama Kedutaan Besar (Kedubes) Kerajaan Arab Saudi Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi menekankan pentingnya kepemimpinan dan etos kerja yang berlandaskan amanah, keikhlasan, serta profesionalisme (itqan) dalam Islam.

Saat menjadi narasumber pada kegiatan Ramadhan Leadership Camp di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, ia mengutip sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW) bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diemban.

Karena itu, kata dia, seseorang yang diberikan jabatan atau kewenangan tidak hanya bertanggung jawab secara administratif, tetapi juga secara moral dan spiritual.

Menurutnya, seorang pemimpin maupun pegawai tidak cukup hanya menjalankan aktivitas kerja secara formal. Pekerjaan harus dilandasi kecintaan terhadap tugas, keikhlasan, serta itqan yakni bekerja dengan kualitas terbaik, lengkap, dan sempurna.

Dalam Islam, lanjutnya, pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas akan menghasilkan dua hal sekaligus, yakni al-ujrah (upah atau gaji di dunia) dan al-ajr (pahala dari Allah). Karena itu orientasi kerja seorang Muslim seharusnya tidak semata-mata material, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam sesi yang diikuti hampir 1.000 ASN itu, Syekh Ahmed menyoroti dua kelompok utama dalam dunia kerja yakni pemimpin dan pegawai.

Bagi pemimpin, ia menekankan tiga kewajiban utama. Pertama, berlaku amanah dan adil terhadap seluruh pegawai. Kedua, memberikan motivasi (at-tahfiz), penghargaan, dan dorongan agar pegawai mampu bekerja secara optimal.

Ketiga, meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam memimpin yaitu tidak bersikap kasar, namun juga tidak terlalu longgar, sehingga tercipta keseimbangan dalam organisasi.

Selain itu seorang pemimpin dituntut untuk menjauhi sikap zalim serta senantiasa hadir secara hati dan pikiran dalam setiap urusan, baik besar maupun kecil, demi menunaikan amanah yang diemban.

Sementara bagi pegawai, Syekh Ahmed menegaskan pentingnya ketaatan kepada atasan dalam koridor syariat, menjaga amanah dalam setiap tugas, serta bertanggung jawab atas seluruh fasilitas dan waktu kerja yang dipercayakan.

“Setiap amanah akan ada hisabnya. Bahkan hal-hal kecil dalam pekerjaan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah,” ujarnya.

Ia juga mendorong pegawai untuk memiliki target, inovasi, dan kontribusi nyata di bidang masing-masing, serta menjunjung tinggi akhlak mulia dalam pelayanan, tanpa membedakan latar belakang masyarakat yang dilayani.

Menutup pemaparannya, Syekh Ahmed menegaskan bahwa nilai-nilai yang disampaikan merupakan akhlak dasar seorang Muslim dalam bekerja, yang relevan diterapkan oleh siapa pun yang mengemban amanah, khususnya dalam kepemimpinan dan pelayanan publik.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026