
PLN Belum Jamin Listrik Normal di Ramadan

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Pusat Listrik Nasional (PLN) Cabang Mamuju Provinsi Sulawesu Barat (Sulbar) belum menjamin pasokan listrik yang ada diwilayah ini normal pada bulan Ramadhan.
Kepala PLN Cabang Mamuju, Agus Salim di Mamuju, Jumat, mengatakan, krisis listrik yang terjadi sejak 16 Juli 2009 belum bisa menjamin apakah pasokan listrik bisa normal di bulan Ramadhan, sebab saat ini debit air pada PLTA Bakaru dan Bili-Bili kian menipis akibat musim kemarau.
Kami belum dapat menjamin pasokan listrik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di bulan suci ramadhan, karena saat ini debit air pada dua pembangkit listrik Bakaru dan Bili-Bili mengalami penurunam, "kata Agus.
Informasi dari Kantor Wilayah PLN Makassar, kata Agus, pemadaman bergilir yang terjadi di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat sejak pertengahan Juli lalu ditargetkan berakhir pada akhir Juli 2009, namun demikian, pihak PLN Mamuju belum dapat menjamin apakah pasokan listrik di bulan Agustus atau bulan Ramadhan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada di wilayah ini.
"Kami masih menunggu informasi dari Kantor Wilayah PLN Makassar apakah pasokan listrik bisa kembali normal pada bulan suci ramadhan mendatang, "ungkap Agus.
Untuk itu, Agus, meminta masyarakat dapat melakukan penghematan pemakaian listrik untuk mengurangi beban subsidi BBM yang diberikan oleh Negara.
"Setiap harinya pemakaian listrik pelanggan rata-rata Rp550 per Kwh, sementara biaya untuk memproduksi listrik satu Kwh listrik dibutuhkan sekitar 0,3 liter solar yang harganya sekitar Rp3.540," ucapnya.
Upaya penghematan listrik ini harus dilakukan karena selain untuk mengurangi beban subsidi listrik oleh negara, juga dapat mengurangi beban tagihan listrik yang dipakai pelanggan. Di samping itu, lanjut dia, juga pasokan listrik pada bulan Ramadhan mendatang dapat dinikmati secara menyeluruh oleh masyarakat di wilayah ini karena persediaan sangat terbatas.
(T.PSO-104/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
