Logo Header Antaranews Makassar

Sumbangsih perikanan NTT mencapai Rp4,9 miliar pertahun

Rabu, 29 April 2015 14:08 WIB
Image Print
"Jumlah tersebut kita peroleh dari pemasukan retribusi yang diambil dari perusahaan-perusahaan ...

Kupang (ANTARA Sulsel) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nusa Tenggara Timur Abraham Maulaka mengatakan sumbangsih sektor kelautan dan perikanan bagi pendapatan asli daerah (PAD) NTT mencapai Rp4,9 milliar pertahun.

"Jumlah tersebut kita peroleh dari pemasukan retribusi yang diambil dari perusahaan-perusahaan yang menanamkan modal di wilayah kita," katanya kepada Antara di Kupang, Rabu.

Ia menjelaskan sejauh ini pemasukan terbesar tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengolahan ikan tangkap yang ada di tiga kabupaten yakni Kabupaten Flores Timur, Sikka dan Kota Kupang.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh pengusaha dari Jepang sangat kecil.

"Salah jika masyarakat beranggapan pemasukan buat PAD kita terbesar itu berasal dari perusahaan mutiara yang dikelolah oleh orang Jepang. Sejauh ini terbanyak berasal dari perusahaan pengolahan ikan tangkap," tambahnya.

Namun untuk berapa jumlah secara pasti pertahun dari pemasukan oleh para pengusaha itu sendiri, ia mengatakan akan dihitung jika ingin mengekspor kemudian menurutnya para pengusaha mengurus sertifikat kelayakannya.

"Nah dari situlah kita dapatkan pembayaran retribusi penjualan hasil ikan kita keluar negeri," tambahnya.

Terkait masih kurangnya para investor dalam hal penanaman modal di sektor perikanan dan kelautan, ia mengakui hal itu memang terjadi, namun menurutnya perlahan-lahan sudah mulai banyak investor yang ingin menanamkan modalnya di NTT khususnya disektor kelautan dan perikanan.

Ia mengambil contoh kerja sama antara pemerintah provinsi NTT dengan Jawa Tengah yang bergerak di bidang pengembangan budi daya rumput laut, pengembangan perikanan tangkap, serta pengolahan garam.

"Hal ini menjadi jalan yang membuka mata para investor bahwa, NTT memiliki hasil laut yang banyak, dan membutuhkan investor," tambahnya. R. Malaha



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026