
Dirut PTPN XIV : Pendemo Tidak Paham Persoalan

Makassar (ANTARA Sulsel) - Direktur Utama (Dirut) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV, Amrulla AM, menyatakan para pengunjukrasa tidak paham persoalan yang terjadi di lahan pabrik gula Takalar selama ini.
"Orang-orang yang menndemo itu tidak paham persoalan yang terjadi sebenarnya, " jelas Amrullah, di Makassar, Rabu.
Pernyataan tersebut menanggapi maraknya aksi demontrasi yang dilakukan mahasiswa bersama warga Makassar pasca insiden di dusun Bulumbung Desa Massamaturu Kecamatan Polongbangkeng Utara (Polut) Kabupeten Takalar, Sulawesi Selatan.
Menurutnya, para pendemo terpengaruh provokasi oleh orang dan oknum yang salah mempersepsikan sengketa tanah yang terjadi antara PTPN XIV dan warga. "Mereka menganggap lahan hanya disewa oleh pabrik gula, padahal sudah dibebaskan, " ungkapnya.
Ammirullah yakin, bahwa ada oknum-oknum yang sengaja menghasut beberapa warga di Takalar yang merasa dirugikan. Sepakterjang para provokator yang selama ini menghambat jalan perkebunan ini terekam dalam kamera.
Kamera tersebut ditemukan saat aparat kepolisian Takalar mengamakan satu orang yang membawa kamera ketika terjadi insiden bentrokan dan penembakan minggu (9/8) lalu.
Dalam kaset itu terekam semua kegiatan rapat, pengarahan warga dan peta-peta lokasi lahan yang dipimpin oleh orang-orang yang bukan warga asli sebelum bentrokan.
"Kami yakin kejadian ini terstruktur dan terkoordinasi dengan baik. Dalam kaset video warga diajari bagaimana menghadapi polisi, " bebernya
Dia juga menjelaskan, bahwa lahan perkebunan tebu yang luasnya 6.550.22 hektar adalah lahan Hak Guna Usaha (HGU) sedangkan Hak Guna Bangunan (HGB) berupa lokasi pabrik dan fasilitas pendukung lainnya, dengan luas 181.93 hektar. Sedangkan lahan yang ada di kabupaten Takalar ada 6.000 hektar dari 11.000 hektar yang ada di tiga Kabupaten.
"Seluruh lahan HGU dan HGB sudah dibebaskan oleh Pemerintah Kabupaten Takalar sesuai sertifikat yang dimiliki oleh pabrik gula Takalar. HGU akan berakhir hingga 2024, " ujarnya
Selain itu, katanya, sebanyak 250 hektar tanah sudah diberikan kepada warga yang merasa tidak puas. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, malah telah memberikan dana sebanyak 1,8 miliar secara gergulir kepada mereka guna memanfaat lahan tersebut. "Tapi mereka bandel. Harapan PTPN mereka menanam tebu, tapi yang ditanam malah padi, " tuturnya.
(T.PSO-101/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
