
Pemkab Gowa hapus pelajaran baca tulis hitung

"Secara psikologis anak yang sebelumnya di TK dihadapkan pada kondisi bermain dan di SD...
Gowa, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Pemerintah Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan meluncurkan inovasi pendidikan dengan menghapus mata pelajaraan baca tulis hitung untuk kelas 1 dan 2 sekolah dasar, menggantinya dengan mata pelajaran Imtaq (Iman dan Taqwa) Indonesia.
Pengumuman penghapusan mata pelajaran baca tulis hitung (Calistung) tersebut disampaikan Bupati Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo di Kantor Pemkab, Senin, didampingi Dr Yusi Riksa Yustiana dan Prof Dr Abdul Hamid dari UPI Bandung, kemudian Bambang Supeno (Kementerian Pendidikan Nasional), Prof Dhini (psikolog UI), serta Prof. Jufri Idrus dan Prof Dr Aris Munandar dari UNM.
Ide mengganti mata pelajar membaca tulis dan hitung atau Calistung ini bermula dari ide Bupati Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo sebagai upaya memberikan kebebasan dan kenyamanan belajar pada anak usia keemasan 3-8 tahun.
Terobosan ini sekaligus sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dari Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Gowa beberapa tahun belakangan ini.
Sebelum penghapusan mata pelajaran Calistung, Bupati Gowa terlebih dahulu meminta pakar dan para guru besar untuk mengkaji rencana kebijakan ini. Pertemuan dengan pakar pendidikan dilaksanakan, Rabu (8/7).
Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. M. Jufri menyatakan dirinya dan beberapa pakar lainnya menyetujui ide Ichsan Yasin Limpo bahkan pertimbangannya dari sisi psikologis calistung di SD Kelas 1 belum tepat.
"Secara psikologis anak yang sebelumnya di TK dihadapkan pada kondisi bermain dan di SD pada kondisi disiplin yang akan membuat anak tertekan. Kondisi tertekan ini membuat anak sulit untuk menerima pembelajaran di masa mendatang," jelasnya.
Menurut Ichsan Yasin Limpo, orang tua jangan bangga jika memiliki anak usia 3-8 tahun sudah pintar membaca dan menghitung.
"Anak dengan usia seperti itu belum waktunya untuk diisi kecerdasan, karena jika diisi maka kecerdasannya tidak akan bertambah. Usia 3-8 tahun waktu buat anak-anak untuk bermain. Jangan larang anak bermain, yang perlu dilakukan oleh orang tua menjaga agar mereka tidak celaka," katanya.
Dia mengatakan anak dalam usia bermain akan menghidupkan jaringan otak kanan dan otak kiri masing-masing 100 miliar jaringan kecerdasan.
"Melalui permainan maka jaringan ini akan melakukan proses penyambungan dengan istilah sinapsis. Kondisi ini terjadi cuma satu kali dalam kehidupan manusia," katanya.
Sinapsis jaringan neuron, ujar dia, tersambung pada usia 3-8 tahun jika lewat usia ini dan sinapsis tidak tersambung maka jaringan ini akan mati dengan sendirinya dan mengakibatkan tidak maksimalnya kecerdasan anak.
"Ini diakibatkan otak anak terlalu cepat diisi dengan belajar membaca, menulis dan menghitung. Sebagai solusi pengganti mata pelajaran calistung maka akan diisi dengan belajar Imtaq Indonesia untuk mengembangkan keimanan dan ketakwaan melalui permainan," katanya.
Sebagai tahap awal maka kebijakan pendidikan ini akan berlaku di delapan sekolah di Gowa sebagai uji coba hingga Januari dan akan berlaku hingga evaluasi pada tahun 2016 dalam semester genap dengan evaluasi setiap bulannya seperti SKTB.
Pewarta : Agus Setiawan
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
