Logo Header Antaranews Makassar

Petani menjerit rendah harga rumput laut

Sabtu, 4 Juni 2016 19:58 WIB
Image Print
"Untuk kesempatan ini, kami berharap agar harga rumput laut yang sejak 2015 ...

Luwu Utara, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Petani rumput laut di Desa Munte, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan menjerit atau mengeluhkan penurunan harga rumput laut yang hingga kini belum mampu diatasi pihak terkait.

Kepala Desa Munte, Suryanto di Luwu Utara, Sabtu, mengatakan harga rumput lain yang merupakan hasil panen para petani di desanya saat ini masih dipatok dengan harga Rp6.000 perkilogram (untuk rumput laut kering) atau turun hampir dua kali lipat dari harga normal sebelumnya yakni Rp11 ribu perkilogram.

"Untuk kesempatan ini, kami berharap agar harga rumput laut yang sejak 2015 mengalami penurunan agar bisa segera dinormalkan. Para petani kami begitu kesulitan jika ini tidak berubah, apalagi harganya memang jauh menurun dari harga jual secara normal," ucapnya.

Ia menjelaskan, meski harga rumput laut belum normal namun tidak terlalu mempengaruhi motivasi para petani untuk menanam bibit rumput laut.

Namun demikian, memang ada beberapa yang sudah berupaya mencari penghasilan lain untuk meningkatkan perekonomian warga. Apalagi Desa Munte yang terletak di Kecamatan Tana Lili itu memang juga punya potensi pertanian.

Menurut dia, untuk produksi rumput laut dari para petani di desanya itu memang cukup besar bahkan hingga mencapai 27 ton setiap tahun.

Hanya saja dalam perkembangan, kata dia, juga mengalami penurunan produksi karena terpengaruh dampak pemanasan global. Musim yang tidak pasti dengan cuaca yang begitu terik juga menjadi kendala untuk bisa memproduksi secara maksimal.

Untuk panen sendiri, kata dia, bisa dilakukan pada 30-40 hari ke depan dari masa penanaman bibit.

"Sebelum adanya dampak pemanasan global, para petani bisa panen secara teratur sepanjang tahun mulai dari Januari hingga November. Namun akibat kondisi musim yang seperti ini justru memang membuat tingkat produksi menurun drastis," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Republik Indonesia (Menperin RI) Saleh Husin meresmikan industri pengolahan rumput laut di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (4/6).

Saleh mengatakan, sebagai negara dengan produksi rumput laut terbesar di dunia, Indonesia justru masih kalah dari segi ekspor hasil olahan rumput laut dari negara lain seperti Filipina.

Karenanya, kata dia, upaya untuk mendorong hadirnya industri-industri pengolahan termasuk rumput laut.

"Industri pengolahan sangat penting, karena memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Kita akan meminta industri-industri besar yang bahan bakunya dari Indonesia, agar pabriknya berlokasi di Indonesia, sehingga ada nilai tambah," sebutnya.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026