Kapal Pinisi La Hila Diluncurkan Di Bulukumba

id bulukumba, festival pini, la hila, tana beru

Prosesi peluncuran kapal la Hila di Tana Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (3/11). (FOTO/Syamsurya Pratama)

Bulukumba (Antara Sulsel) - Kapal pinisi La Hila diluncurkan dalam rangkaian Festival Pinisi ke-8 di kawasan pembuatan perahu, Tana Beru, Kecamatan Bontohari,  Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat.

Panitia pelaksana Festival Pinisi ke-8 Andi Ayatullah Ahmad mengatakan La Hila adalah kapal pesiar yang dipesan pengusaha asal Bima Nusa Tenggara Barat yang akan beroperasi di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur.

"Kapal La Hila dibuat pengusaha pembuat kapal H Rusdi Mulyadi yang akrab disapa Haji Ulli asal Tanah Beru," ujar Andi Ayatullah yang juga Kasubag Pemberitaan Pemkab Bulukumba.

Sementara itu, Haji Ulli mengatakan kapal yang dibuatnya itu dikerjakan selama empat bulan lebih, memiliki panjang 12 meter dengan lebar 4,75 meter dengan kekuatan 30 Gross Tonnage (GT) dan menelan biaya  sekitar Rp1,5 miliar.

Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto yang hadir menyaksikan peluncuran perahu tersebut mengatakan acara peluncuran perahu merupakan rangkaian Festival Pinisi, sebagai upaya memperlihatkan kepada publik bagaimana konstruksi pembangunan kapal Pinisi itu sendiri.

"Kapal Pinisi atau kapal jenis lainnya bukan hanya semata dalam bentuk perahunya, tapi ia dikemas dalam kearifan-kearifan lokal, ritual-ritual yang mungkin selama ini belum pernah dilihat, mulai dari pembuatannya sampai pada prosesi peluncurannya," ungkap Tomy.

Nama kapal pesiar tersebut, diambil dari kisah seorang putri Kesultanan Bima bernama La Hila pergi dan menghilang dari kampungnya. La Hila yang berparas cantik dan berambut panjang meninggalkan kampungnya karena menghindari para pria yang ingin meminangnya.

Kini La Hila muncul dan dilahirkan kembali di tanah Bulukumba, tepatnya di Tanah Beru. La Hila bukan lagi menjadi sosok perempuan cantik, namun ia kini berubah menjadi kapal perahu cantik yang segera mengarungi lautan dan samudera. Sebagai sosok yang baru lahir, ia pun diperlakukan seperti bayi yang baru lahir, lantunan doa dan ritual menolak bala (Appasili) dilakukan demi keselamatan dirinya di masa mendatang.

Peluncuran La Hila didahului beberapa beberapa ritual  seperti "Appasili" atau doa menolak bala, "Ammosi" yaitu  ritual yang merupakan simbolisasi pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir simbol lubang di tengah "kalabiseang" yang dibor sampai tembus ke sebelah kanan lunas perahu.

Setelah prosesi "Ammossi" selesai, dimulailah ritual penarikan perahu ke tengah laut. Prosesi peluncuran atau "Annyorong Lopi" dahulunya memanfaatkan puluhan bahkan ratusan tenaga manusia untuk menarik perahu ke laut, namun saat ini prosesi tersebut sudah menggunakan peralatan yang lebih moderen yaitu katrol.

Turut hadir pada peluncuran Kapal La Hila antara lain Ketua DPRD Bulukumba Andi Hamzah Pangki, anggota DPRD H Safiuddin dan Hj Hilmiaty Asip, Dandim 1411 Letkol ARM Sutikno, Kapolres AKBP M Anggi Naulifar, beberapa pejabat Pemda , warga masyarakat, serta para awak media dan puluhan fotografer yang  mengabadikan prosesi peluncuran tersebut.


Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar