"Reception" Versus Resepsi

id resepsi

D.Dj. Kliwantoro (Foto Istimewa)

       Semarang (Antaranews Sulsel) - Lema "resepsi" bermakna "penerimaan" tampaknya nyaman bagi warga akademik. Pasalnya, di antara penanya dalam sidang terbuka promosi gelar doktor Pratama Dahlian Persadha, tidak satu pun yang bertanya soal kata itu.

       Sidang yang dipimpin Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc. di Auditorium Lantai 5 Gedung Sps UGM, Jalan Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, Selasa (23-1-2018), penguji mencecar Pratama dengan pertanyaan mengenai isi disertasi meski ada pula yang menanyakan perbedaan antara istilah "media massa online" dan "media online".

       Dalam ujian terbuka untuk memperoleh derajat doktor dalam Ilmu Kajian Budaya dan Media, dosen senior pada Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM Budiawan, Ph.D. bertanya, "Apakah ada media 'online' yang tidak massa?"

       Pratama menjawab ada. Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) lantas mencontohkan "electronic mail" (e-mail) atau surat elektronik (surel) yang privat, bukan termasuk media massa "online" atau dalam jaringan (daring).

       Begitu pula, Prof. Dr. Irwan Abdullah selaku promotor, Dr. S. Bayu Wahyono (kopromotor), Prof. Heru Nugroho, Dr. Bambang Widiayana, Dr. Ari Sugito, Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., D.E.A. dan Dr. Susy Handayani juga tidak mempersoalkan istilah resepsi dalam judul disertasi Pratama.

       Mereka tampaknya sudah nyaman dengan kata yang berasal dari istilah asing "reception" (bahasa Inggris) meski di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) lema itu bermakna "pertemuan (perjamuan) resmi yang diadakan untuk menerima tamu (pada pesta perkawinan, pelantikan)".

       Walaupun Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia hingga sekarang belum memasukkannya di dalam KBBI, sejumlah akademisi mengindonesiakan kata "reception" menjadi "resepsi".

       Pratama Dahlian Persadha, S.Sos., M.M. salah satu di antara mereka yang menggunakan kata itu dalam judul disertasinya (Resepsi Khalayak terhadap Kampanye Hitam dalam Media Massa Online pada Pemilihan [Umum] Presiden 2014).

       Dengan demikian, penggunaannya tergantung pada konteksnya. Jika melihat judul disertasi Dr. Pratama, arti dari resepsi dalam kalimat tersebut adalah penerimaan. Namun, dalam kata majemuk "buku resepsi" bermakna buku untuk mencatat nama-nama tamu yang datang berkunjung, atau buku tamu.

       Kalau kata "resepsi" di depannya ada lema "teori", gabungan dua kata itu memiliki makna tersendiri. Makna "teori resepsi" di dalam KBBI adalah teori yang mementingkan tanggapan pembaca terhadap karya sastra, misalnya tanggapan umum yang mungkin berubah-ubah yang bersifat penafsiran dan penilaian terhadap karya sastra yang terbit dalam rentang waktu tertentu.

   
                                "Cum Laude"
       Seiring dengan perjalanan waktu, kemungkinan KBBI akan mengadopsi "reception" sebagaimana istilah "cum laude". Apakah KBBI akan mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan, seperti "cum laude" atau penulisannya "resepsi"?

       Sebelumnya, KBBI belum mengambil ungkapan bahasa Latin itu. Jika mengetik "cum laude" dalam KBBI versi luar jaringan (luring) atau KBBI Edisi III, kita belum menemukan lema tersebut.

       Namun, ketika menulis kata asing itu di dalam KBBI Daring (vide kbbi.kemdikbud.go.id/entri/cum laude), istilah itu merupakan ungkapan bahasa Latin dengan pujian (tentang yudisium). Bahkan, dalam KBBI Daring ada contoh penggunaannya. Misalnya, lulus dengan predikat cum laude menjadi impian bagi tiap mahasiswa.

       Penggunaan istilah "cum laude" juga digunakan Prof. Siti Malkhamah ketika mengumumkan hasil ujian terbuka untuk memperoleh derajat doktor dalam Ilmu Kajian Budaya dan Media.

       Siti selaku ketua tim penguji mengatakan, "Saudara Pratama Dahlian Persadha. Setelah tim penguji mempertimbangkan hasil ujian saudara, maka dengan ini saudara dinyatakan lulus dengan predikat 'cum laude'."

       Apabila istilah "reception" penulisannya resepsi, berarti ada dua kata yang sama di dalam KBBI yang maknanya berbeda.

       Begitu pula, istilah promotor, di dalam KBBI terdapat tiga makna, yakni: pertama, bermakna orang yang menjadi penganjur atau pendorong suatu usaha (gerakan dan sebagainya); kedua, guru besar yang memimpin dan mengarahkan orang yang akan mencapai gelar doktor; ketiga orang yang bertanggung jawab atas keuangan suatu pertandingan olahraga, termasuk mencari dana, mengadakan kontrak, dan sebagainya.

       Konteksnya dengan sidang terbuka promosi gelar doktor Pratama D. Persadha, tim pembimbing penyusun disertasi atau promotor terdiri atas Prof. Dr. Irwan Abdullah (promotor) dan Dr. S. Bayu Wahyono (kopromotor).

       Disertasi karangan ilmiah yang ditulis untuk memperoleh gelar doktor yang dibuat Pratama ini setidaknya membuka wacana perlu tidaknya memasukkan kata resepsi yang bermakna "penerimaan" di dalam KBBI.

       Baik judul maupun materi di dalam disertasinya, dinilai berani tampil beda. Apalagi, menyangkut dua kontestan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014, pasangan Prabowo Subianto/Hatta Rajasa dan Joko Widodo/Jusuf Kalla, yang mendapat respons beragam dari informannya.

       Ketika mempertahankan disertasinya di hadapan Dewan Penguji Ujian Terbuka Sekolah Pascasarjana UGM, Pratama mengungkapkan penerimaan khalayak media massa daring terhadap kampanye hitam pada Pilpres 2014 tidak homogen, tetapi sangat beragam. Bahkan, penerimaan khalayak bergantung pada latar belakang ideologi politik, status sosial, faktor kultural, pengalaman masa lalu, dan karakter keluarga.

       Ia menegaskan bahwa kepercayaan khalayak media massa daring terhadap pesan kampanye hitam bervariasi. Dalam arti, di satu sisi ada yang percaya terhadap isu-isu negatif yang disebarkan.

       Akan tetapi, di sisi lain juga ada yang sama sekali tidak percaya. Hal ini bergantung pada latar belakang sosio-kultural dan preferensi politiknya.

       Menurut pakar keamanan siber itu, kampanye hitam melalui media baru secara umum tidak berpengaruh terhadap persepsi khalayak media massa daring, malah menguatkan kondisi preferensi politik khalayak yang sudah ada yang memang sudah terbelah menjadi dua kubu pendukung masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

       Artinya, khalayak yang berada dalam posisi dominan-hegemonik, praktis tidak terpengaruh oleh pesan dan isu yang disebarkan melalui kampanye hitam.

       Khalayak dalam menerima pesan dan isu kampanye hitam melalui media massa daring, menurut dia, tidak bersifat individual sebagaimana karakter khalayak media baru, tetapi khalayak menerimanya secara kolektif terikat oleh kelompok rujukan ideologi politik dan nilai sosio-kultural yang disosialisasikan melalui lembaga keluarga.

       Setidaknya disertasinya itu tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan demokrasi di Tanah Air, tetapi juga dalam perkembangan bahasa Indonesia ke depan.

Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar