Abrasi Pantai Tapalang Capai 10 Meter
Sabtu, 15 Januari 2011 12:10 WIB
Mamuju (ANTARA News) - Abrasi pesisir pantai Desa Tampalang Kecamatan Tapalang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat mencapai 10 meter masuk kedaratan.
Pemantauan di Mamuju, Sabtu, abrasi pantai di Desa Tampalang Kecamatan Tampalang sudah semakin parah karena gelombang air laut pasang sudah mencapai 10 meter merensek masuk kedaratan setelah menghantam pemukiman warga.
Bangunan permanen milik penduduk seperti bangunan WC dan sumur yang terbuat dari batu sudah tampak berada seperti ditengah laut, setelah gelombang pasang air laut merusak rumah warga yang terbuat dari kayu
Abrasi pantai yang membuat air laut dengan mudah masuk kedaratan itu terjadi karena gelombang pasang di Desa Tampalang sebelumnya berhasil menjebol tanggul penahan ombak yang berfungsi melindungi pemukiman masyarakat dari terjangan gelombang pasang.
Kini air laut akibat abrasi masuk kedaratan dan bersiap menghantam badan jalan trans sulawesi yang menghubungkan Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju yang juga terletak di pesisir pantai Desa Tampalang.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan karena belum juga ada tanda tanda pemerintah di Mamuju akan segera membangun tanggul untuk mencegah abrasi dan gelombang pasang di Desa Tampalang lebih jauh merengsek kedaratan,"kata Akbar salah seorang warga
Padahal tindakan itu sangat penting dilakukan untuk melindungi pemukiman masyarakat yang masih terancam gelombang pasang yang setiap waktu dapat terjadi di pesisir pantai Desa Tampalang.
"Warga sudah mendesak pemerintah di Mamuju untuk segera membangun kembali tanggul yang rusak namun belum juga ada tanda tanda akan direalisasikan, agar warga sedikit lebih merasa aman,"katanya.
Ia mengaku sangat khawatir abrasi akan terus merengsek kedaratan hingga mencapai puluhan meter dan akan segera menghancurkan pemukiman warga kalau seandainya abrasi yang sudah terjadi tidak segera dilakukan antisipasi.
"Gelombang pasang akibat abrasi dalam waktu cepat atau lambat akan segera menghancurkan pemukiman penduduk yang mendiami pesisir pantai desa tampalang yang berada disebelah barat pulau sulawesi sehingga harus ada antisipasi pemerintah sebelum seluruh pemukiman warga hancur akibatnya,"katanya.
Sebelumnya (13/1) gelombang pasang akibat abrasi pantai merusak sembilan unit rumah penduduk dan 23 rumah lainnya rusak ringan, sekitar 37 KK masyarakat Desa Tampalang terpaksa kehilangan tempat tinggal. (T.KR-MFH/M019)
Pemantauan di Mamuju, Sabtu, abrasi pantai di Desa Tampalang Kecamatan Tampalang sudah semakin parah karena gelombang air laut pasang sudah mencapai 10 meter merensek masuk kedaratan setelah menghantam pemukiman warga.
Bangunan permanen milik penduduk seperti bangunan WC dan sumur yang terbuat dari batu sudah tampak berada seperti ditengah laut, setelah gelombang pasang air laut merusak rumah warga yang terbuat dari kayu
Abrasi pantai yang membuat air laut dengan mudah masuk kedaratan itu terjadi karena gelombang pasang di Desa Tampalang sebelumnya berhasil menjebol tanggul penahan ombak yang berfungsi melindungi pemukiman masyarakat dari terjangan gelombang pasang.
Kini air laut akibat abrasi masuk kedaratan dan bersiap menghantam badan jalan trans sulawesi yang menghubungkan Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju yang juga terletak di pesisir pantai Desa Tampalang.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan karena belum juga ada tanda tanda pemerintah di Mamuju akan segera membangun tanggul untuk mencegah abrasi dan gelombang pasang di Desa Tampalang lebih jauh merengsek kedaratan,"kata Akbar salah seorang warga
Padahal tindakan itu sangat penting dilakukan untuk melindungi pemukiman masyarakat yang masih terancam gelombang pasang yang setiap waktu dapat terjadi di pesisir pantai Desa Tampalang.
"Warga sudah mendesak pemerintah di Mamuju untuk segera membangun kembali tanggul yang rusak namun belum juga ada tanda tanda akan direalisasikan, agar warga sedikit lebih merasa aman,"katanya.
Ia mengaku sangat khawatir abrasi akan terus merengsek kedaratan hingga mencapai puluhan meter dan akan segera menghancurkan pemukiman warga kalau seandainya abrasi yang sudah terjadi tidak segera dilakukan antisipasi.
"Gelombang pasang akibat abrasi dalam waktu cepat atau lambat akan segera menghancurkan pemukiman penduduk yang mendiami pesisir pantai desa tampalang yang berada disebelah barat pulau sulawesi sehingga harus ada antisipasi pemerintah sebelum seluruh pemukiman warga hancur akibatnya,"katanya.
Sebelumnya (13/1) gelombang pasang akibat abrasi pantai merusak sembilan unit rumah penduduk dan 23 rumah lainnya rusak ringan, sekitar 37 KK masyarakat Desa Tampalang terpaksa kehilangan tempat tinggal. (T.KR-MFH/M019)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga pesisir Polewali Mandar Sulbar bangun tanggul darurat cegah abrasi
20 January 2025 20:22 WIB, 2025
Akademisi Teknik Sipil Unhas edukasi warga Galesong Takalar cegah abrasi
03 November 2024 20:23 WIB, 2024
Dinas LHK : Hutan mangrove Sulsel seluas 12.278 hatersebar di 18 wilayah
12 July 2024 9:28 WIB, 2024
BP2P Sulawesi I selesaikan huntap korban abrasi Pantai Amurang Minahasa Selatan
17 September 2023 19:25 WIB, 2023
Basarnas Sulsel tanam 501 bibit pohon mangrove cegah abrasi di Pantai Untia
23 February 2023 19:34 WIB, 2023
Warga Mampie minta pemerintah lanjutkan pembangunan tanggul pemecah ombak
09 August 2022 19:18 WIB, 2022
Aktivis lingkungan UNM libatkan masyarakat pesisir tanam bibit pohon
11 January 2022 22:04 WIB, 2022