Ratusan ekor ternak babi warga Lembata mati terserang virus ASF
Jumat, 22 Januari 2021 11:03 WIB
Sejumlah bangkai babi yang mati akibat terserang virus african swine fever (ASF) dan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/HO-Dinas Peternakan Kabupaten Lembata)
Kupang (ANTARA) - Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mencatat sekitar 800-an ekor ternak babi milik warga setempat mati akibat terserang virus african swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
"Kejadian serangan ASF ini muncul sejak November 2020 dan puncaknya sejak 21 Desember 2020 hingga sekarang ini," kata Kepala Dinas Peternakan Lembata Kanisius Tuaq ketika dihubungi dari Kupang, Jumat.
Ia menjelaskan 800-an ekor babi milik warga yang mati dipastikan terserang virus ASF berdasarkan hasil uji laboratorium Bala Besar Veteriner Denpasar di Bali.
Ternak babi mati setelah mengalami gejala seperti kemerahan pada bagian telinga, perut, dada, diare berdarah, serta tiba-tiba terlentang, kesulitan bernafas dan tidak mau makan.
"Mengenai upaya penanganan, Kanisius menjelaskan dilakukan dengan pencegahan serta penanganan bangkai babi.
Kanisius mengatakan sebelumnya banyak bangkai babi sembarangan sehingga membuat penyebaran virus ASF semakin meningkat.
"Persoalan yang ada di lapangan itu warga membuang bangkai di kali atau sekitar pantai dan laut sehingga penyebaran virus semakin meluas," katanya.
Untuk itu, kata dia, pemerintah daerah sudah mengambil alih dengan mengumpulkan bangkai babi untuk dikuburkan secara teratur pada lahan yang sudah disediakan.
Ia mengimbau agar masyarakat atau peternak di daerah itu agar juga melakukan langkah-langkah pencegahan di antaranya memperhatikan pakan babi maupun menjaga kebersihan lingkungan kandang dan sekitarnya.
"Kejadian serangan ASF ini muncul sejak November 2020 dan puncaknya sejak 21 Desember 2020 hingga sekarang ini," kata Kepala Dinas Peternakan Lembata Kanisius Tuaq ketika dihubungi dari Kupang, Jumat.
Ia menjelaskan 800-an ekor babi milik warga yang mati dipastikan terserang virus ASF berdasarkan hasil uji laboratorium Bala Besar Veteriner Denpasar di Bali.
Ternak babi mati setelah mengalami gejala seperti kemerahan pada bagian telinga, perut, dada, diare berdarah, serta tiba-tiba terlentang, kesulitan bernafas dan tidak mau makan.
"Mengenai upaya penanganan, Kanisius menjelaskan dilakukan dengan pencegahan serta penanganan bangkai babi.
Kanisius mengatakan sebelumnya banyak bangkai babi sembarangan sehingga membuat penyebaran virus ASF semakin meningkat.
"Persoalan yang ada di lapangan itu warga membuang bangkai di kali atau sekitar pantai dan laut sehingga penyebaran virus semakin meluas," katanya.
Untuk itu, kata dia, pemerintah daerah sudah mengambil alih dengan mengumpulkan bangkai babi untuk dikuburkan secara teratur pada lahan yang sudah disediakan.
Ia mengimbau agar masyarakat atau peternak di daerah itu agar juga melakukan langkah-langkah pencegahan di antaranya memperhatikan pakan babi maupun menjaga kebersihan lingkungan kandang dan sekitarnya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Erupsi Gunung Lewotobi, Delapan pesawat batalkan penerbangan ke Flores dan Lembata NTT
08 July 2025 12:57 WIB
Warga kaki Gunung Ile Lewotolok NTT diimbau mewaspadai ancaman lahar
30 December 2022 5:59 WIB, 2022
Mendagri Tito Karnavian tetapkan penjabat Bupati Lembata dan Flores Timur
19 May 2022 15:18 WIB, 2022
Pemkab imbau masyarakat Pulau Lembata bagian utara segera mengungsi
14 December 2021 12:43 WIB, 2021
18 dari 26 penduduk hilang di lereng gunung Ile Api ditemukan meninggal
10 April 2021 20:11 WIB, 2021
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
DPR setujui 10 nama jadi anggota Dewas BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan
10 February 2026 12:59 WIB