Makassar, 9/11 (ANTARA) - Potensi wisata bahari di Sulawesi Selatan (Sulsel) masih terkendala infrastruktur, padahal selain memiliki taman laut nasional (TLN) Taka Bonerate, juga terdapat lokasi pembuatan perahu tradisional "Phinisi".
"Kendala yang dihadapi untuk mengembangkan potensi wisata bahari diantaranya akses jalan dan transportasi udara," jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel Ama Saing di Makassar, Minggu.
Dari sejumlah potensi wisata bahari di Sulsel, lanjutnya, dua diantaranya yang banyak menarik perhatian wisatawan mancanegara yakni TLN Taka Bonerate di Kabupaten Selayar dan Tanjung Bira di Kabupaten Bulukumba. Hanya saja untuk mencapai lokasi tersebut dibutuhkan waktu sedikitnya tujuh jam dengan kendaraan darat.
Akses jalan menuju Ibukota Kabupaten Bulukumba dari Kota Makassar cukup baik, namun dari ibukota kabupaten ke lokasi Tanjung Bira atau pun ke tempat pembuatan perahu di Ara, masih berupa pengerasan jalan, sehingga pada musim kemarau akan berdebu dan musim hujan jalan menjadi becek.
Sementara jika akan ke Kabupaten Selayar, terlebih dahulu harus melewati penyeberangan Kapal Ferry di Bulukumba. Sedangkan jika menempuh via udara, hanya tersedia layanan pesawat jenis perintis dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang, itu pun hanya ada pelayanan tiga kali seminggu.
Kendati masih ada kendala infrastruktur, lanjut Ama, pihaknya bersama pemerintah setempat tetap gencar mempromosikan wisata itu di dalam maupun luar negeri. Sebagai implementasinya, pada awal tahun 2009 diagendakan Festival di Kabupaten Bulukumba.
"Diharapkan Festival Phinisi yang masuk dalam kalender wisata nasional ini, selain dapat menyerap wisatawan nusantara (wisnu) juga mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman)," ujarnya.
Sementara capaian kunjungan wisnu dan wisman tahun 2008, ia mengatakan, untuk wisnu ditargetkan 1,5 juta kunjungan dan wisman 30 ribu kunjungan. Namun untuk wisnu pada posisi Oktober 2008 sudah melampaui target yahkni mencapai 1,7 juta kunjungan, sedang wisman baru mencapai 28 ribu kunjungan. Sehingga masih dibutuhkan sekitar dua ribu kunjungan wisman lagi hingga akhir tahun ini untuk mencapai target tersebut.
"kami optimis target wisman masih bisa tercapai melalui program 'Lovely December' yang akan digelar di Kabupaten Tana Toraja bulan depan," paparnya.
Pada 'Lovely December' itu, berbagai atraksi budaya akan disajikan kepada pengunjung diantaranya upacara adat kematian yang dikenal dengan istilah 'rambu solo'. Pada pesta adat ini ratusan kerbau dan babi akan disembelih, salah satu diantara kerbau tersebut adalah kerbau jenis langkah 'tedong balian' seharga Rp120 juta per ekor.
Tedong balian dengan warna kulit hitam dan tanduk lurus sepanjang 3,4 meter ini akan menjadi 'persembahan' pada pesta adat 'rambu solo'. Sementara kerbau termahal kedua setelah tedong balian adalah tedong bonga dengan kulit belang-belang putih. Kerbau ini memiliki harga jual rata-rata Rp105 juta per ekor dan jenisnya masih bisa ditemukan sebanyak hitungan jari, sementara tedong balian hanya satu ekor saja di Tana Toraja.
***2***
(T.K-SUR/C/F004/F004) 09-11-2008 17:58:37
WISATA BAHARI SULSEL TERKENDALA INFRASTRUKTUR
Minggu, 9 November 2008 11:19 WIB
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026