NU : Waspadai Islam Radikal
Selasa, 14 Agustus 2012 14:55 WIB
Palu (ANTARA News) - Ketua Dewan Tanfidz Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Tengah Mohsen Alidrus mengatakan salah satu tantangan bangsa Indonesia dan NU saat ini adalah lahirnya kelompok Islam radikal sehingga perlu diwaspadai.
"Salah satu ujian NU dan Indonesia adalah adanya keinginan sekelompok orang untuk mendirikan negara Islam Indonesia," kata Mohsen pada tadarrus kebangsaan dan peluncuran majalah "Atta'wun" di Sekretariat Ansor Sulawesi Tengah di Palu, Senin malam.
Kegiatan yang dilaksakan hingga menjelang Selasa dini hari tersebut sebagai rangkaian peringatan hari lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-78 tahun dan peringatan 17 Agustus 2012.
Acara yang mengusung tema memperkokoh kebhinekaan memerangi kemiskinan tersebut digelar duduk bersila dihadiri Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Muhidin M Said, sejumlah tokoh-tokoh agama non Islam dan pimpinan partai politik.
Mohsen mengatakan, NU sejak berdiri tahun 1926 hingga kini jati dirinya tidak pernah berubah yakni tetap mengawal Indonesia dalam bingkai keislaman inklusif dan kebangsaan.
Dia mengatakan, NU tidak pernah memikirkan negara Islam Indonesia namun terus mendorong pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa.
"Oleh sebab itu NU mengakui keragaman hidup berbangsa," katanya.
Mohsen mengutip salah satu tradisi pemikiran dalan NU yakni memelihara tradisi lama yang dianggap baik dan mengakomidir tradisi baru yang dianggap baik.
Hal inilah kata Mohsen, sehingga NU selalu menghargai keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Mohsen, garis keras Islam Indonesia menolak tradisi-tradisi Indonesia. Mereka ingin menggantikan tradisi Indonesia dari salah satu tradisi kelompok di timur tengah yang senang mengkafirkan kelompok lain dalam konteks bernegara dan berbangsa.
Mohsen mengatakan, sejak dulu sudah lahir gerakan Islam radikal yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Hal ini kata dia, bisa dilihat dari gerakan DI/TII, dan pemberontakan Permesta.
Dia mengatakan, gerakan tersebut tidak mengganggu NU dan Muhammadiyah tapi juga merepotkan organisasi Islam lainnya seperti Alkhairat, salah satu organisasi keislaman terbesar di Indonesia timur.
"Alkhairaat pernah diajak masuk ke dalamnya (gerakan Islam radikal) untuk mengkhianati Pancasila," kata Mohsen. (T.A055/E001)
"Salah satu ujian NU dan Indonesia adalah adanya keinginan sekelompok orang untuk mendirikan negara Islam Indonesia," kata Mohsen pada tadarrus kebangsaan dan peluncuran majalah "Atta'wun" di Sekretariat Ansor Sulawesi Tengah di Palu, Senin malam.
Kegiatan yang dilaksakan hingga menjelang Selasa dini hari tersebut sebagai rangkaian peringatan hari lahir Gerakan Pemuda Ansor ke-78 tahun dan peringatan 17 Agustus 2012.
Acara yang mengusung tema memperkokoh kebhinekaan memerangi kemiskinan tersebut digelar duduk bersila dihadiri Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Muhidin M Said, sejumlah tokoh-tokoh agama non Islam dan pimpinan partai politik.
Mohsen mengatakan, NU sejak berdiri tahun 1926 hingga kini jati dirinya tidak pernah berubah yakni tetap mengawal Indonesia dalam bingkai keislaman inklusif dan kebangsaan.
Dia mengatakan, NU tidak pernah memikirkan negara Islam Indonesia namun terus mendorong pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa.
"Oleh sebab itu NU mengakui keragaman hidup berbangsa," katanya.
Mohsen mengutip salah satu tradisi pemikiran dalan NU yakni memelihara tradisi lama yang dianggap baik dan mengakomidir tradisi baru yang dianggap baik.
Hal inilah kata Mohsen, sehingga NU selalu menghargai keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Mohsen, garis keras Islam Indonesia menolak tradisi-tradisi Indonesia. Mereka ingin menggantikan tradisi Indonesia dari salah satu tradisi kelompok di timur tengah yang senang mengkafirkan kelompok lain dalam konteks bernegara dan berbangsa.
Mohsen mengatakan, sejak dulu sudah lahir gerakan Islam radikal yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Hal ini kata dia, bisa dilihat dari gerakan DI/TII, dan pemberontakan Permesta.
Dia mengatakan, gerakan tersebut tidak mengganggu NU dan Muhammadiyah tapi juga merepotkan organisasi Islam lainnya seperti Alkhairat, salah satu organisasi keislaman terbesar di Indonesia timur.
"Alkhairaat pernah diajak masuk ke dalamnya (gerakan Islam radikal) untuk mengkhianati Pancasila," kata Mohsen. (T.A055/E001)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Empat terdakwa kasus uang palsu jalani persidangan perdana di PN Gowa-Sulsel
29 April 2025 21:02 WIB, 2025
Presiden Prabowo akan menghadiri Kongres XVIII Muslimat NU di Surabaya
14 January 2025 18:42 WIB, 2025