Siswa Diminta Hindari Aksi Corat-Coret
Jumat, 16 Mei 2014 14:20 WIB
Palu (ANTARA Sulsel) - Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Palu mengimbau para siswa untuk menghindari aksi corat-coret pakaian seragam saat hasil Ujian Nasional (UN) diumumkan pada 24 Mei 2014.
"Saya meminta siswa-siswi tidak melakukan corat-coret pakaian seragam. Begitu pula konvoi kendaraan," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran setempat Sadly Lesnusa di Palu, Jumat.
Ia mengatakan masih banyak orang, termasuk siswa kurang mampu di kota ini yang sangat membutuhkan perhatian.
Lebih baik pakaian tersebut diberikan kepada siswa kurang mampu dari pada hanya dicorat-coret.
Karena itu, Sadly berharap pihak sekolah mengumpulkan pakaian seragam para siswa yang akan lulus untuk selanjutnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Aksi corat-coret pakaian seragam sekolah selalu mewarnai pengumuman hasil UN baik SMP dan SMA.
Aksi seperti itu merugikan karena pakaian itu masih bisa dimanfaatkan oleh siswa lain.
Membantu siswa yang kurang mampu, justru merupakan hal positif yang perlu dilakukan sebagai wujud dari perhatian dan kepedulian kepada sesama umat manusia.
Sementara Kepala SMP Negeri 2 Palu Arsid Nurdin juga menyambut positif himbuan Dinas Pendidikan dan berharap para siswa tidak melakukan aksi corat-coret dan konvoi kendaraan.
Dia juga sependapat lebih baik pakaian seragam diberikan kepada siswa yang membutuhkan dari pada di corat-coret.
Pihaknya telah mengimbau siswa SMPN 2 Palu untuk mengumpulkan pakaian seragam guna disalurkan kepada siswa yang membutuhkan.
Beberapa tahun lalu, pakaian seragam yang dikumpulkan disalurkan kepada para siswa yang terkena bencana alam di daerah lain.
"Kita pernah menyalurkan bantuan pakaian seragam kepada siswa korban bencana alam di daerah lain," katanya. R. Malaha
"Saya meminta siswa-siswi tidak melakukan corat-coret pakaian seragam. Begitu pula konvoi kendaraan," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran setempat Sadly Lesnusa di Palu, Jumat.
Ia mengatakan masih banyak orang, termasuk siswa kurang mampu di kota ini yang sangat membutuhkan perhatian.
Lebih baik pakaian tersebut diberikan kepada siswa kurang mampu dari pada hanya dicorat-coret.
Karena itu, Sadly berharap pihak sekolah mengumpulkan pakaian seragam para siswa yang akan lulus untuk selanjutnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Aksi corat-coret pakaian seragam sekolah selalu mewarnai pengumuman hasil UN baik SMP dan SMA.
Aksi seperti itu merugikan karena pakaian itu masih bisa dimanfaatkan oleh siswa lain.
Membantu siswa yang kurang mampu, justru merupakan hal positif yang perlu dilakukan sebagai wujud dari perhatian dan kepedulian kepada sesama umat manusia.
Sementara Kepala SMP Negeri 2 Palu Arsid Nurdin juga menyambut positif himbuan Dinas Pendidikan dan berharap para siswa tidak melakukan aksi corat-coret dan konvoi kendaraan.
Dia juga sependapat lebih baik pakaian seragam diberikan kepada siswa yang membutuhkan dari pada di corat-coret.
Pihaknya telah mengimbau siswa SMPN 2 Palu untuk mengumpulkan pakaian seragam guna disalurkan kepada siswa yang membutuhkan.
Beberapa tahun lalu, pakaian seragam yang dikumpulkan disalurkan kepada para siswa yang terkena bencana alam di daerah lain.
"Kita pernah menyalurkan bantuan pakaian seragam kepada siswa korban bencana alam di daerah lain," katanya. R. Malaha
Pewarta : Anas Masa
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mendikdasmen ungkap alasan UN format baru digelar pada November 2025
21 January 2025 14:25 WIB, 2025
Mendikdasmen menghilangkan kata "zonasi" dan "ujian" di pendidikan dasar
20 January 2025 15:02 WIB, 2025
Mendikdasmen: "Deep learning" itu pendekatan belajar bukan kurikulum pendidikan
09 November 2024 9:22 WIB, 2024
Anies tunda ujian nasional siswa SMA/SMK se-DKI Jakarta, cegah COVID-19
14 March 2020 16:52 WIB, 2020