Makassar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Sulsel memperkuat kolaborasi guna melawan ancaman tuberkulosis (TBC) di daerah itu.
Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi dalam keterangannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target eliminasi TBC nasional tahun 2030 sebagaimana diamanatkan Perpres Nomor 67 Tahun 2021.
“Menuju eliminasi TBC 2030 dan Visi Indonesia Emas 2045 Pemprov Sulsel tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh kolaborasi dengan PPTI, dunia pendidikan, organisasi profesi, dan seluruh lapisan masyarakat," ujarnya saat menerima audiensi PPTI Sulsel di Makassar, Kamis.
Data Dinas Kesehatan Sulsel menunjukkan hingga 19 Agustus 2025 capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) TBC sebesar 62 persen atau 137.032 jiwa. Angka ini meningkat dibanding bulan sebelumnya, meski penemuan kasus masih rendah.
Dari target 45.472 kasus TBC di Sulsel, baru 16.881 kasus (37 persen) yang berhasil ditemukan. Hal ini menandakan masih ada tantangan besar dalam memperluas deteksi dini, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas.
Selain itu, jumlah pasien TBC sensitif obat (SO) yang berhasil diobati mencapai 5.167 pasien (84,7 persen), sedangkan pasien TBC resisten obat (RO) sebanyak 109 pasien (71,2 persen). Angka ini masih di bawah target keberhasilan pengobatan WHO sebesar 90 persen.
Untuk itu, Wagub Sulsel mengingatkan TBC bukan sekadar persoalan medis, melainkan masalah sosial yang membutuhkan pendekatan komprehensif.
“Pengendalian TBC harus dipahami sebagai upaya menjaga ketahanan sosial masyarakat kita. Dengan deteksi dini, pendampingan, dan pengobatan tuntas, kita bisa menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya,” tegas Fatmawati.
Sementara Ketua PPTI Sulsel, Riyanti Nazief mengatakan pihaknya akan memperkuat kapasitas kader di tingkat komunitas agar dapat menjangkau pasien di wilayah yang sulit terlayani fasilitas kesehatan.
“PPTI hadir untuk memperkuat gerakan masyarakat melawan TBC. Kami berkomitmen mendampingi pasien sampai sembuh dan mendukung pemerintah dalam memperluas edukasi serta deteksi dini,” jelas Riyanti.