Makassar (ANTARA Sulsel) - Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto menyebutkan jika pertumbuhan ekonomi Makassar yang melampaui capaian nasional menjadi indikator kesiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, maka kota ini siap masuki MEA.

"Kita sangat siap menghadapi MEA karena kita adalah satu-satunya kota di Indonesia yang pertumbuhan ekonominya sangat pesat dalam lima tahun terakhir ini," ujarnya saat menjadi pembicara dalam dialog akhir tahun di Makassar, Selasa.

Ramdhan Pomanto mendorong penguatan industri lokal dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan daya saing jelang pemberlakukan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015. MEA juga dinilainya sebagai pintu masuk Makassar.

Kota Makassar dianggap cukup menarik karena meski diterpa dengan aksi unjuk rasa yang selalu membuat terpuruk kota ini dalam hal pencitraan, namun kepercayaan para investor dalam berinvestasi masih sangat tinggi.

"Makassar dimata para investor sangat `seksi`, kenapa seksi, karena meskipun kita diterpa demo yang bisa membuat terpuruk dalam imege. Namun kepercyaan untuk investasi masih sangat lebih tinggi," katanya.

Bukan cuma itu, kata Danny sapaan akrab wali kota, letak geografis Kota Makassar yang berada di tengah-tengah Indonesia menjadikannya kota yang sangat potensial.

"Secara geografis, Makassar ini berada di tengah-tengah Indonesia, terlebih konsep poros maritim. Jika diawali dari Makassar, Insya Allah Indonesia akan dua kali tambah biak," ungkapnya.

Menurut Danny letak Makassar sebagai Centre Point of Indonesia (CPI) yang mana jika dari timur kumpul di Makassar dari barat juga akan kumpul di Makassar. Waktu pengiriman barang dari kota ke kota juga akan lebih cepat waktunya.

Lebih jauh dalam menghadapi persaingan MEA, Makassar juga punya potensi sumber daya alam (SDA) dari laut seperti jenis Teripang yang bakal menjadi daya tarik.

Khusus untuk jenis sumber daya alam jenis teripang ini, kebanyakan nelayan dan pengusaha di Makassar sudah mempunyai pasar ekspor keluar negeri.

Dalam diskusi ini, hadir pula sebagai pembicara, Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah, Anggota DPR RI, Dewie Yasin Limpo dan Kepala Dinas Pertanian Sulsel Lutfi Halide. Biqwanto